CARI TAJUK UTAMA
Showing posts with label taubat. Show all posts
Showing posts with label taubat. Show all posts

Tuesday, June 17, 2008

Taubat Dalam Sunnah Rasulullah

Dalam sunnah Nabi Saw, kita banyak menemukan hadits-hadits yang mengajak kita untuk bertaubat, menjelaskan keutamaannya, dan mendorong untuk melakukannya dengan berbagai cara. Hingga Rasulullah Saw bersabda:

"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah SWT, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah SWT dalam satu hari sebanyak seratus kali". (Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Al Aghar al Muzni.) Aku cukupkan dengan menyebut beberapa hadits yang disebutkan oleh hafizh al Mundziri dalam kitabnya "at-Targhib wa Tarhib", dan aku sebutkan hadits-hadits yang paling penting dari hadits-hadits itu dalam kitabku: "al Muntaqa min at Targhib wa Tarhib".

Dari Abi Musa r.a. diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, (terus berlangsung demikian) hingga (datang masanya) matahari terbit dari Barat (kiamat)". Hadits diriwayatkan oleh an-Nasaai. Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Jika kalian melakukan dosa hingga dosa kalian sampai ke matahari, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan mengampuni kalian". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang baik. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhd (4248), dan dalam kitab az Zawaid diterangkan: ini adalah isnad hasan.). Dari Jabir r.a. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

"Di antara kebahagiaan manusia adalah, panjang usianya, dan Allah SWT memberikan rezeki taubat kepadanya". Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: isnad hadits ini sahih. (Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi (4/240) dan Al Haitsami menyebutkan sebagian hadits ini dan berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Bazzar, dan sanadnya adalah hasan (10/203).).

Dari Abi Sa'id al Khudri r.a. dari Nabi Saw beliau bersabda:

"Perumpamaan orang mu'min dan iman adalah seperti kuda dalam kandang (ikatan) nya, ia berjalan sebentar ke luar untuk kemudian kembali ke kandang (ikatan) nya . Dan seorang mu'min dapat lalai dan melakukan kesalahan namun kemudian ia kembali kepada keimanannya. Maka berikan makanan kalian kepada kaum yang bertakwa, dan kaum mu'minin yang baik". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam sahihnya. (Yaitu dalam al Mawaarid (2451), dan diriwayatkan pula oleh Ahmad dan Abu Ya'la seperti dikatakan oleh al Haitsami, dan para periwayatnya adalah sahih, selain Abi Sulaiman al Laitsi, dan Abdullah bin al Walid at Tamimi, keduanya adalah tsiqat (10/201).). Dari Anas r.a. bahwa Nabi Saw bersabda:

"Seluruh anak Adam adalah cenderung berbuat salah, dan paling baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat". Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah, dan Hakim. Seluruhnya dari riwayat Ali bin as'adah.(Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam kitab at Taqrib: ia Shaduq dan mempunyai sedikit kelemahan (awham)). Tirmizi berkata: hadits ini gharib, kami hanya medapatkannya dari Ali bin Mas'adah dari Qatadah. Al Hakim berkata: Isnadnya sahih. (Hadits riwayatkan oleh Tirmidzi dalam kitab Shifaat al Qiyaamah (1, 25) dan Ibnu Majah dalam kitab az Zuhd (4252), dan al Hakim (4/244). Adz Dzahabi berkata: Ali adalah layyin (agak lemah), dan Ibnu Al Qaththan mendukung al Hakim seperti terdapat dalam kitab Al Faidh (5/17). Dan dinilai hasan oleh Al Albani dalam kitab Sahih Jami' Shagir (5415).).

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:

"Seorang hamba melakukan dosa, dan berdo'a: 'Ya Tuhanku, aku telah melakukan dosa maka ampunilah aku'. Tuhannya berfirman: 'hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dan menghapus dosanya, maka Tuhan-pun mengampuninya'. Kemudian waktu berjalan dan orang itu tetap seperti itu hingga masa yang ditentukan Allah SWT, hingga orang itu kembali melakukan dosa yang lain. Orang itupun kembali berdo'a: 'Ya Tuhanku, aku kembali melakukan dosa, maka ampunilah dosaku'. Tuhan-nya berfirman: 'Hamba-Ku mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dan menghapus dosanya', maka Tuhan-pun mengampuninya. Kemudian ia terus dalam keadaan demikian hingga masa yang ditentukan Allah SWT, hingga akhirnya ia kembali melakukan dosa. Dan ia berdo'a: 'Ya Tuhanku, aku telah melakukan dosa, maka ampunilah daku'. Tuhan-nya berfirman: 'Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dan menghapus dosanya'. Maka Tuhannya berfirman: 'Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku, dan silahkan ia melakukan apa yang ia mau". Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Redaksi: 'falya'mal ma syaa' "silakan ia melakukan apa yang ia mau" maknanya adalah --wallahu a'lam--: selama dia melakukan dosa dan beristighfar kemudian diampuni, dan ia tidak melakukan dosa itu lagi. Dengan dalil redaksi: "kemudian ia melakukan dosa lagi" maka ia dapat melakukannya lagi jika itu merupakan perangainya, sesuai kemauannya. Karena ia, setiap kali ia melakukan suatu dosa maka taubat dan istihgfarnya menjadi penghapus dosanya itu, dan ia tidak mendapatkan celaka. Tidak karena ia melakukan suatu dosa, kemudian ia beristighfar dari dosanya itu dengan tanpa berusaha membebaskan dirinya dari kebiasan buruknya itu, karena itu adalah taubat orang yang suka bohong.

Telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya seorang hamba, jika ia melakukan dosa maka terdapat bintik hitam dalam hatinya, dan jika ia bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa itu serta beristighfar, maka hatinya kembali dibersihkan". Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: kaum Quraisy berkata kepada Rasulullah Saw: "Berdoalah kepada Rabbmu agar bukit Shafa dijadikan emas bagi kami, dan jika ia telah berhahasil menjadi emas, kami akan mengikutimu". Maka Rasulullah Saw berdoa kepada Rabbnya dan Jibril a.s. datang dan berkata: "Rabbmu mengucapkan salam kepada engkau. Dan berfirman kepada engkau: Jika engkau mau maka dapat Aku jadikan emas bukit Shafa itu bagi mereka, namun jika kemudian dari mereka itu (kaum kafir Quraisy) ada yang kafir, maka Aku akan azab dia dengan azab yang tidak pernah aku timpakan kepada seorangpun di dunia. Dan jika engkau mau, Aku buka bagi mereka pintu taubat dan rahmah". Rasulullah Saw bersabda: "(aku ingin dibukakan) Pintu taubat dan rahmat saja". Hadits diriwayatkan oleh Thabrani, dan para perawinya adalah sahih. (Dan sejenisnya disebutkan oleh Al Haitsami (10/196) seperti diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: Isnadnya sahih, dan itu setujui oleh Adz Dzahabi (4/240).).

Dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi Saw bersabda:

"Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakratul maut)". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Tirmizi. Ia berkata: hadits ini hasan. (Hadits diriwayatkan oleh At Tizmidzi dalam kitab Ad Da'awat (3531) dan Ibnu Majah dalam az Zuhd. Dan ia menjadikannya dari hadits Abdullah bin Amru. Seperti diriwayatkan oleh al Hakim juga dan ia mensahihkannya, serta disetujui oleh adz Dzahabi (4/257). Dan Al Haitsami menyebutkannya dalam kitab Majma' Zawaid sebagian dari hadits itu dari salah seorang sahabat, dan ia berkata: Hadits ini diriwaytkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah sahih, selain Abdu Rahman (bin al Bailamani) dia adalah tsiqat (10/197).).

Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. dari Nabi Saw bersabda:

"Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdosa". Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Thabrani dan keduanya dari riwayat Abi Ubaidah bin Abdullah bin Mas'ud dari bapaknya. Dan ia tidak mendengar darinya. Dan para perawi Thabrani adalah sahih. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Maad dalam kitab Al Zuhd (4250) dan Ibnu Hajar menghukumkannya hasan, dengan melihat hadits-hadits sejenis yang menguatkannya, seperti terdapat dalam kitab Al Maqhashid, al Faidh, al Kasyf. Dan Al Albani mensahihkannya dalam kitab Sahih Jami' Shaghir (3008).). Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Dunya, dan Baihaqi secara marfu' juga dari hadits Ibnu Abbas. Dan ia menambahkan: "dan orang yang meminta ampunan dari suatu dosa, sementara ia masih tetap melakukan dosa itu adalah seperti orang yang mengejek Tuhannya". Tambahan ini diriwayatkan secara mauquf, barangkali ia lebih mirip.

Dari Abdullah bin Ma'qal ia berkata; Aku masuk bersama ayahku kepada Abdullah bin Mas'ud r.a. . dan ayahku berkata kepadanya: Aku mendengar Nabi Saw bersabda: "Penyesalan adalah taubat"? (Maksudnya, pokok yang paling utama dalam taubat adalah penyesalan. Seperti terdapat dalam hadits "Hajji adalah Arafah". Maka itu tidak menafikan keharusan adalah tekad dan meninggalkan perbuatan dosa itu untuk mencapai taubat yang sempurna.)

Ia menjawab: benar. Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim. Dan ia berkata: isnadnya sahih. (Disepakati oleh Adz Dzahabi (4/243) dan Al Mundziri lupa untuk menisbahkannya kepada Ahmad, seperti kami telah singgung. Syaikh Syakir berkata: Sanadnya sahih. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah juga 4252).).

Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi Saw bersabda:

"Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan membinasakan kalian dan mendatangkan suatu makhluk lain yang berbuat dosa, sehingga mereka kemudian meminta ampun kepada Allah SWT dan Allah SWT mengampuni mereka". (Karena di antara nama Allah SWT adalah "Al Ghaffaar" --Maha Pemberi ampunan. Maka siapa yang akan memberikan ampunan jika seluruh hamba-Nya adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan dosa?!! Maka orang yang telah melakukan dosa hendaknya tidak menjadi putus asa, selama dosa yang ia lakukan itu adalah bukan dosa besar. Karena ampunan Allah SWT lebih besar dari dosanya itu. Dan Allah SWT berfirman: "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Penyampun lagi Maha Penyayang". (QS. Az-Zumar: 53).). Hadits diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya. Dari 'Imran bin Hushain r.a. bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah Saw, dan wanita itu sedang hamil karena zina. Kemudian wanita itu berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah Saw aku telah melanggar had, maka jatuhkanlah kepada saya hukumannya". Kemudian Nabi Saw memanggil keluarganya. Dan bersabda:

"Perlakukanlah dia dengan baik, dan jika ia telah melahirkan maka bawalah dia kemari". Keluarganya pun menjalankannya. Kemudian (setelah datang masanya) Rasulullah Saw memerintahkan untuk menjatuhkan hukum atasnya, dan badannya diikat, kemudian iapun dirajam. Setelah itu Rasulullah Saw menshalatkan jenazahnya. Melihat itu Umar bertanya: Wahai Rasulullah Saw apakah baginda menshalatkannya padahal ia telah berzina? Rasulullah Saw bersabda: "Ia telah melakukan taubat yang jika taubat itu dibagi-bagi bagi tujuh puluh penduduk Madinah niscaya mencukupi mereka, dan apakah engkau dapati yang lebih baik daripada orang yang datang menyerahkan dirinya kepada Allah SWT?". Hadits diriwayatkan oleh Muslim.

Dari Abi Sa'id al Khudri r.a. bahwa Nabi Saw bersabda:

"Pada jaman sebelum kalian ada seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, kemudian ia mencari manusia yang paling alim di muka bumi, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang rahib. Ia mendatangi rahib itu dan bertanya: bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, maka apakah ia masih dapat bertaubat?. Sang rahib menjawab: "tidak". Dan orang itupun membunuh sang rahib, hingga ia melengkapi bilangan seratus orang yang telah ia bunuh. Kemudian ia kembali menanyakan tentang orang yang paling alim di muka bumi, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang alim, dan ia bertanya: bahwa ia telah membunuh seratus manusia, maka apakah ia dapat bertaubat? Orang alim itu menjawab: "ya bisa, siapa yang menghalangi antaranya dengan taubat? Pergilah engkau ke daerah ini dan ini, karena di sana ada manusia yang menyembah Allah, maka beribadahlah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu lagi; karena ia adalah negeri yang buruk". Orang itu kemudian berangkat menuju negeri yang ditunjukan itu hingga sampai di tengah perjalanan, di sana malaikat maut mendatanginya dan mencabut nyawanya. Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab bertengkar; malaikat rahmah berkata: Orang ini telah berangkat untuk bertaubat kepada Allah SWT (oleh karena itu ia berhak mendapatkan rahmah). Sedangkan malikat azab berkata: orang ini tidak pernah melakukan kebaikan sedikitpun (oleh karena itu ia seharusnya diazab. Selanjutnya, datang malaikat dalam bentuk seorang manusia, dan berkata kepada keduanya: Ukurlah antara dua negeri itu (antara tempat asalnya dan tempat tujuannya), tempat mana yang lebih dekat orang itu, maka orang itu dimasukkan dalam kelompok itu. Malaikat pun mengukurnya dan mendapati orang itu lebih dekat ke tempat yang ditujunya (tempat orang saleh), maka orag itupun dicabut oleh malaikat rahmah". Dalam satu riwayat:

"Maka diketahui orang itu lebih dekat ke negeri yang saleh sekadar satu jengkal, sehingga iapun dimasukkan dalam golongan orang saleh itu". dalam riwayat lain:

"Allah SWT memerintahkan kepada negeri yang buruk itu untuk menjauh dan kepada negeri yang saleh untuk mendekat. Kemudian memerintahkan kepada malaikat: Ukurlah antara keduanya, dan para malaikut mendapati orang itu lebih dekat ke negeri yang saleh sekadar satu hasta, maka Allah SWT mengampuni orang itu". Dalam riwayat lainnya: Qatadah berkata: Hasan berkata: Diceritakan kepada kami bahwa ketika beliau didatangi malaikat pencabut nyawa ia menyodorkan dadanya kepadanya". Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah dengan sejenisnya.

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Allah SWT berfirman: " Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku, dan Allah SWT lebih senang dengan taubat seorang manusia dari pada seorang kalian yang menemukan kembali perbekalannya di padang tandus. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan menemuinya dengan berlari". Hadits diriwayatkan oleh Muslim, dan lafazhnya darinya, juga Bukhari dengan lafazh yang sama. Dari Syuraih --yaitu Ibnu Harits-- ia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah Saw berkata: Rasulullah Saw bersabda:

"Allah SWT berfirman: Wahai anak Adam, bangunlah kepada-Ku niscaya aku akan berjalan kepadamu, dan berjalanlah kepada-Ku niscaya Aku datang kepadam dengan berlari". hadits diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanadnya yang sahih. (Dan al Haitsami berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah sahih, kecuali Syuraih bin Harits, ia adalah tsiqat (10/196, 197).). Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Allah SWT lebih berbahagia mendapati hamba-Nya bertaubat dari seorang yang tiba-tiba menemukan kendaraannya kembali setelah hilang di padang pasir", hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Keduanya juga meriwayatkannay dari Ibnu Mas'ud dengan redaksi yang lebih luas dari itu. Dan akan disebutkan pada waktunya nanti.

Dari Abi Dzar r.a. ia berkata; Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang melakukan kebaikan pada masa usianya yang tersisa maka ia akan diampuni akan dosa-dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa yang berbuat buruk pada masa usianya yang tersisa maka ia akan dipertanyakan akan dosa yang telah lalu dan dosa pada usianya yang tersisa". Hadits diriwayatkan oleh Thabrani denagn sanad hasan. (Seperti itu pula al Haitsami berkata: (10/202).). Dari 'Uqbah bin 'Amir ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya perumpamaan orang yang mengerjakan keburukan dan kemudian melakukan kebaikan adalah seperti orang yang mengenakan pakaian besi yang telah menjepitnya, kemudian ia melakukan kebaikan dan pakaian besi itupun membuka satu sisinya, dan ketika ia melakukan kebaikan yang lain baju besi itupun makin mengendur hingga akhirnya ia dapat keluar darinya". Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, dan Thabrani dengan dua sanad, dan salah satu sanadnya adalah sahih. (Dan al Haitsami berkata: Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani. Dan satu sanad Thabrani para perawinya adalah sahih (10/201, 202).). Dari Abi Huraira r.a. ia berkata: bahwa seorang laki-laki mencium seorang wanita, dalam riwayat lain disebutkan: seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: Wahai Rasulullah Saw, aku mengobati seorang wanita di ujung kota, dan aku menyentuh bagian dari tubuh yang seharusnya tidak perlu aku sentuh [dalam pengobatan] (Perkataannya: "menyentuh bagian dari tubuh yang seharusnya tidak perlu aku sentuh (dalam pengobatan)" maksudnya adalah melakukan perbuatan selain bersetubuh.), saya mengakui perbuatan saya, maka berikanlah hukuman kepada saya sesuai kehendak Rasulullah Saw". Umar berkata: Allah SWT akan menutupi perbuatanmu jika kamu menutupinya. Ia berkata: Dan Nabi Saw tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Kemudian orang itu bangkit dan berjalan. Dan kemudian Rasulullah Saw mengutus seseorang untuk memanggilnya kembali dan membacakan ayat ini:

"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat" (QS. Hud: 114.). Seorang laki-laki dari yang hadir berkata: Wahai Nabi Allah, apakah itu hanya khusus baginya? Rasulullah Saw bersabda: "Namun bagi seluruh manusia". Hadits diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.

Dari Abi Thawil Syathbul Mamdud bahwa ia mendatangi Nabi Saw dan bertanya: Apakah orang yang telah melakukan segala dosa seluruhnya, dan tidak ada suatu dosa apapun yang tidak pernah dilewatkannya, baik dosa yang kecil maupun yang besar telah ia lakukan, apakah ia masih terbuka taubat baginya?" Rasulullah Saw bersabda: "Apakah engkau telah masuk Islam?". sedangkan saya, maka aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah Rasulullah Saw". Rasulullah Saw bersabda: " Lakukanlah kebaikan, dan tinggalkanlah seluruh keburukan, niscaya Allah SWT akan menjadikan itu semua sebagai kebaikan". Orang itu kembali bertanya: "Apakah itu termasuk dengan perbuatan-perbuatan burukku yang lalu?". Rasulullah Saw menjawab: "Ya". Orang itu mengucapkan: Allah Akbar!, dan ia terus bertakbir (sambil berjalan) hingga tubuhnya tidak terlihat oleh kami. Hadits diriwayatkan oleh Al Bazzar, dan Thabrani, dan lafazh hadits itu adalah riwayatnya. Dan isnadnya adalah jayyid dan kuat. (Al Haitsami berkata: (10/202) hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dan Al Bazzar dengan riwayat yang sama. Dan para perawi Bazzar adalah sahih, selain Muhammad bi Harun Abi Nasyith, dia adalah tsiqat.).

Thursday, May 29, 2008

Taubat Para Nabi

Al Quran telah menyebutkan kepada kita taubat Nabi-nabi dan orang-orang yang saleh atas perbuatan salah mereka. Mereka segera menyesal, bertaubat dan beristighfar dari kesalahan itu. Dengan berharap agar Allah SWT mengampuni dan meneriman taubat mereka.

Pemimpin orang-orang yang taubat adalah nenek moyang manusia, Adam a.s. Yang telah Allah SWT jadikan dia dengan tangan-Nya dan meniupkan ke dalam dirinya secercah dari ruh-Nya, memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya, mengajarkan kepadanya seluruh nama-nama, serta menampilkan keutamaannya atas malaikat dengan ilmu pengetahuannya. Namun Adam yang selamat dalam ujian ilmu pengetahuan, tidak selamat dalam "term pertama" ujian iradah (mengekang hawa nafsu). Allah SWT mengujinya dengan beban pertama yang ditanggungkan kepadanya. Yaitu melarang untuk memakan suatu pohon. Hanya satu pohon yang dilarang untuk dimakannya, sementara memberikan kebebasan baginya untuk memakan seluruh pohon surga sesuka hatinya, bersama isterinya. Di sini tampak ia tidak dapat menahan keinginan pribadinya, serta melupakan larangan Rabbnya dengan dipengaruhi bujuk rayu syaitan dan tipu dayanya, sehingga dia pun memakannya dan dia pun terjatuh dalam kemaksiatan. Namun secepatnya dia mencuci dan membersihkan dirinya dari bekas-bekas dosa itu, dengan taubat dan istighfar.

"Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (QS. Thaaha: 121-122)

Al Quran menceritakan kepada kita tentang taubat Musa yang dipilih Allah untuk membawa risalah-Nya dan menerima kalam-Nya. Serta Allah SWT menurunkan taurat kepadanya, menjadikannya sebagai salah satu ulul 'azmi dari sekian rasul, serta membekalinya dengan sembilan ayat-ayat penjelas. Namun ia telah melakukan dosa sebelum mendapatkan risalah. Yaitu karena menuruti permintaan seseorang dari kaumnya yang sedang bertengkar dengan kaum Fir'aun untuk membantunya, maka kemudian Musa memukulnya dan orang itupun tewas seketika.

"Musa berkata: Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan adalah musuh yang menyesatkan, lagi nyata (permusuhannya). Musa mendo'a: Ya Tuhanku, sesungguhya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al Qashash: 15-16)

Beliau juga telah melakukan kesalahan setelah menerima risalah, ketika beliau berkata:

"Berkatalah Musa: Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sedia kala) niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh, dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." (QS. al A'raaf: 143)

Di sini, Allah SWT berfirman:

"Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu. Sebab itu berpegan teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. al A'raaf: 144)

Ketika Musa kembali kepada kaumnya setelah beliau melakukan munajat kepada Rabbnya selama empat puluh malam, dan mendapati kaumnya telah menyembah anak sapi yang dibuat oleh Samiri, dan menjadikan anak sapi itu sebagai tuhan yang disembah, maka amarah beliaupun segera meledak. Dan bersabda: "alangkah buruknya perlakuan kalian sepeninggalku". Kemudian beliau melemparkan lembaran-lembaran yang terdapat di dalamnya Taurat kalam Allah. Beliau melemparkan lembaran itu ke tanah, padahal di dalamnya terdapat firman-firman Allah. Kemudian menarik kepala saudaranya, Harun, kepadanya, padahal ia juga adalah rasul sepertinya jua. Dan saudaranya itu berkata kepadanya: "Wahai saudara seibuku, mengapa engkau tarik jenggot dan kepalaku, karena kaum kita itu menganggap aku lemah, dan mereka hampir membunuhku, maka janganlah engkau jadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah jadikan aku dari kelompok orang yang zhalim.

Di sini Musa menyadari kemarahannya itu, meskipun marahnya itu karena Allah SWT.

"Musa berdo'a: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan sauadaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. al A'raaf: 151)

Al Quran juga menceritakan tentang taubat Nabi Yunus a.s. Ketika beliau berdakwah kepada kaumnya untuk menyembah Allah SWT namun mereka tidak menuruti dakwahnya itu. Maka Nabi Yunus tidak merasa sabar menghadapi itu, dan marah terhadap kaumnya, kemudian beliaupun pergi meninggalkan mereka. Kemudian Allah SWT ingin menguji beliau dengan cobaan yang dapat membersihkannya, dan menampakkan sifat aslinya yang bagus. Serta sejauh mana keyakinanya terhadap Rabbnya dan kejujurannya dengan Rabbnya. Beliau kemudian menaiki sebuah kapal laut, di tengah laut kapal itu dihantam angin besar, dan dipermainkan oleh ombak, dan mereka merasa bahwa mereka sedang berada dalam bahaya yang besar. Para anak buah kapal berkata; kita harus mengurangi beban kapal sehingga kapal ini tidak tenggelam. Dan akhirnya mereka harus memilih untuk menceburkan sebagian orang yang berada di atas kapal itu agar para penumpang yang lain selamat dari ancaman tenggelam itu. Hal itu dilakukan dengan sistem undian. Kemudian undian itu jatuh kepada Yunus, dan beliaupun harus mengikuti nasibnya itu. Maka beliaupun dilemparkan ke laut, dan kemudian ditelan oleh seekor ikan paus, sambil mendapatkan kecaman karena ia marah terhadap kaumnya serta meninggalkan mereka, karena putus harapan atas mereka. Tanpa berupaya untuk terus mengulangi usahanya itu. Di dalam perut ikan paus itu, keyakinan Yunus kembali menguat, dan beliau berdo'a dalam kegelapan yang menyelimutinya itu: kegelapan laut, kegelapan malam, dan kegelapan perut ikan paus, dengan kalimat-kalimat yang direkam oleh Al Quran ketika bercerita dengan ringkas tentang Yunus ini:

"Dan (ingatlah) kisah Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya atau menyulitkannya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan do'anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al Anbiyaa: 87-88)

Tiga kalimat pendek yang dipergunakan oleh Yunus a.s., namun ketiganya mempunyai pengertian yang besar:

Pertama: menunjukkan atas tauhid --tauhid uluhiyah--, yang dengnnya Allah SWT mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan dengannya pula berdiri surga dan neraka: "La Ilaha Illa Anta" "tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau".

Kedua: menunjukkan pembersihan Allah SWT dari seluruh kekurangan. Ini adalah makna tasbih yang dilakukan langit dan bumi dan seluruh makhluk. Karena segala sesuatu bertasbih dengan memuji-Nya. "Subhaanaka" "Maha Suci Engkau".

Ketiga: Menunjukkan pengakuan atas dosa yang dilakukan. Tidak menjalankan hak Rabbnya dengan sempurna serta menzhalimi diri sendiri karena sikapnya itu. "Inni kuntu minazh zhaalimiin" "sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim " ini adalah tanda sebuah taubat.

Tidak heran jika kata-kata yang pendek namun jujur dan ikhlas itu segera mendapatkan jawabannya di dunia ini, sebelum di akhirat:

"Maka Kami telah memperkenankan do'anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al Anbiya: 88)

Dan kata-kata yang mengandung tiga hal ini: peng-esaan, pembersihan dan pengakuan, menjadi contoh bagi pujian dan do'a ketika terjadi kesulitan. Hingga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia mensahihkannya diriwayatkan:

"Do'a saudaraku Dzun Nun (Nabi Yunus) yang jika dibaca oleh orang yang sedang tertimpa bencana nisaya Allah SWT akan menghilangkan bencana dan kesulitannya itu: "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang melakukan kezaliman".

Al Quran juga menuturkan kepada kita tentang cerita taubat nabi Daud a.s. seperti diceritakan dalam surah Shaad. Yaitu ketika dua orang yang sedang berselisih datang kepada beliau, dan memasuki mihrab beliau, sehingga beliau terkejut melihat kedua orang itu. Keduanya kemudian berkata:

"Janganlah kamu merasa takut (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain ; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukkilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini, mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku, dan ia mengalahkan aku dalam perdebatan. Daud berkata: Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shaad: 22-25)

Kita lihat, apa kesalahan Nabi Daud dalam kisah ini, yang dia sangka sebagai fitnah, dan cobaan bagi beliau, kemudian beliau beristighfar kepada Rabbnya, serta tunduk sujud dan memohon ampunan.

Yang tampak dalam kisah itu adalah: Nabi Daud a.s. bertindak dengan tergesa-gesa serta tidak meneliti dahulu secara mendalam, sehingga beliau terpengaruhi oleh dorongan emosi ketika mendengar perkataan salah seorang yang sedang berselisih itu. Dan secara tergesa-gesa memutuskan hukum dengan merugikan pihak lain, tanpa terlebih dahulu mendengar alasan-alasannya, dan memberikan kesempatan kepadanya untuk membela dirinya sendiri. Seorang hakim yang adil hendaknya tidak terperdaya oleh ucapan satu pihak yang sedang berselisih atau penampilannya. Hingga ia telah meneliti dan menyelidikinya dengan seksama, dan mendengar dari seluruh pihak yang berselisih dan adanya dalil yang mendukung ucapan masing-masing. Oleh karena itu ada yang mengatakan: Jika salah seorang yang sedang berselisih datang kepadamu dan sambil memperlihatkan satu matanya yang luka, maka tunggullah hingga engkau juga melihat lawan perkaranya, karena barangkali justru lawannya itu kedua matanya luka!

Oleh karena itu, datang perintah Tuhan agar Daud tidak cepat terpengaruh oleh emosinya dalam menetapkan suatu hukum. Dalam firman Allah SWT:

"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia denga adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Shaad: 26)

Apakah kedua orang yang sedang berselisih itu adalah memang manusia, atau dua malaikat yang menyamar sebagai manusia, datang untuk menguji nabi Daud, kemudian keduanya lenyap tanpa bekas?

Apapun kemungkinannya, namun pengertian dan tujuannya adalah sama. Namun itu tidak dapat dijadikan sebagai suatu bentuk metafor, dan sebagai sindiran bagi Daud sendiri, karena ia menginginkan istri tetangganya sendiri, seperti digambarkan oleh kisah-kisah Israiliat yang menampilkan dengan buruk perjalanan para Rasul dan Nabi-nabi. Hingga dalam kisah Israiliat itu para Nabi telah jatuh dalam tindakan-tindakan yang orang biasa saja tidak mau melakukannya, maka bagaimana mungkin terjadi bagi seseorang yang Allah SWT tundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya pada sore dan pagi hari. Tentangnya Allah SWT berfirman:

"Dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan)".

"Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik".

Ayat-ayat yang berkaitan dengan taubat banyak terdapat dalam al Quran, dan dalam halaman selanjutnya ayat-ayat itu akan kami ungkapkan. Insya Allah.

Sunday, May 18, 2008

Taubat Palsu

Manusia memang tidak boleh terlepas daripada berbuat dosa. Kalau tidak dosa terang-terangan, kita terlibat dengan dosa-dosa yang tersembunyi. Kalau tidak dosa lahir, kita terlibat dengan dosa-dosa batin. Kalau tidak dosa yang kita sedar, kita terlibat dengan dosa-dosa yang kita tidak sedar. Kalau tidak dosa-dosa besar, kita terlibat dengan dosa-dosa kecil.

Dosa-dosa kecil ini pula, kalau kita kekalkan dan kita anggap ianya kecil, ia menjadi dosa besar. Kecualilah bagi para rasul dan nabi yang maksum, yang dosa-dosa mereka itu telah sedia diampunkan oleh Tuhan.

Dosa berlaku bila kita berbuat maksiat dan kemungkaran, dan bila kita melanggar perintah Tuhan sama ada kita tinggal apa yang Tuhan wajibkan ataupun kita buat apa yang Tuhan haramkan.

Maksiat dan kemungkaran ialah pintu manusia terkeluar dari rahmat dan kasih sayang Tuhan. Pintu untuk kembali kepada rahmat dan kasih sayang Tuhan ialah Taubat. Taubat ialah satu anugerah Tuhan kepada manusia supaya manusia yang terbuat salah dan dosa, tidak berputus asa. Taubat adalah jalan bagi mereka menyucikan diri dan kembali semula kepada Tuhan.

Kaedah bertaubat berbeza-beza dari umat ke umat. Bangsa Yahudi yang menjadi pengikut para Nabi dan Rasul yang terdahulu terpaksa membunuh diri sebagai syarat untuk bertaubat dari dosa-dosa besar. Untuk bertaubat, mereka perlu keluar pada malam yang gelap-gelita di tempat yang sunyi dan menikam diri mereka hingga mati. Mati itulah syarat taubat mereka diterima Tuhan. Justeru itu, tidak ramai yang sanggup bertaubat kerana syaratnya terlalu berat. Hanya mereka yang betul-betul menyesal sahaja yang sanggup berbuat demikian.

Bagi kita orang Islam dan umat Rasulullah, cara untuk bertaubat sangat mudah. Inilah sebahagian dari rahmat dan berkat Rasulullah. Syaratnya hanyalah:
* Menyesal
* Berhenti dari berbuat maksiat berkenaan
* Berazam jangan diulangi lagi
* Kalau dosa itu melibatkan orang lain, kena minta ampun dari orang tersebut terlebih dahulu

Oleh itu, ramailah orang-orang Islam yang bertaubat kerana syaratnya sangat ringan dan mudah. Hari-hari orang Islam bertaubat. Ada yang bertaubat berpuluh-puluh, beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali seumur hidup mereka. Ini sangat berbeza dengan bangsa Yahudi di zaman dahulu. Mereka hanya boleh bertaubat sekali sahaja dalam hidup mereka kerana apabila sudah bertaubat mereka terpaksa membunuh diri. Inilah juga punca kedengkian dan sakit hati para Iblis dan Syaitan terhadap umat Rasulullah.

Sebegitu kerasnya mereka berusaha sepanjang masa tanpa rehat untuk menipu, menyesatkan dan menjerumuskan umat Rasulullah ini ke dalam kancah maksiat dan kemungkaran, semua dosa itu akan terhapus hanya dengan sekali taubat sahaja. Justeru itu, sebegitu ramai umat yang iblis dan syaitan telah jauhkan dari rahmat dan kasih sayang Tuhan, seramai itu pula yang kembali kepada Tuhan dengan bertaubat. Kerana taubat itu dipermudahkan bagi umat Rasulullah.

Namun, walaupun bertaubat itu mudah, di pintu taubat itulah iblis menunggu untuk menipu kita supaya taubat kita tidak diterima Tuhan. Bahkan dia sentiasa berusaha supaya taubat kita bukan sahaja tidak diterima Tuhan malahan akan menjauhkan lagi kita dengan Tuhan. Apabila kita bertaubat dengan penuh penyesalan, digalakkannya lagi dan didorong-dorongnya hingga kita terasa di hati kita yang dosa kita telah terhapus. Hingga kita terasa sudah tidak berdosa lagi. Hingga kita terasa diri sudah bersih dan suci dari dosa. Rasa tenang, rasa aman dan rasa selamat dengan taubat kita itu hingga hati kita berkata-kata:
“Dah bertaubat ni, tenang rasa hati”
“Rasa hilang beban dosa”
“Dah bertaubat ni, kalau boleh rasa nak mati sekarang jugak” “Aku ini mati esok, syurga manalah agaknya”

Akibatnya, kita bertaubat dari satu dosa tetapi kita terjerumus ke dalam satu dosa lain yang lebih berat lagi. Kerana rasa tidak berdosa itu adalah satu dosa. Rasa diri bersih dan suci dari dosa itu satu mazmumah. Ini dosa batin namanya. Dosa hati. Dosa lahir tidak bahaya kerana mudah kita sedar dan kita tahu. Oleh itu tidak ada masalah untuk bertaubat. Tetapi dosa hati sangat halus dan tersembunyi. Jarang manusia sedar bila terbuat dosa hati. Jarang mereka bertaubat dari dosa-dosa batin ini. Akhirnya mereka mati membawa dosa-dosa tersebut tanpa bertaubat. Ini ghurur namanya. Ini tipuan syaitan.

Sepatutnya, lagi banyak kita bertaubat, lagi tajam sifat kehambaan yang ada pada diri kita. Setelah bertaubat, kita sepatutnya lebih takut dengan Tuhan. Lebih rasa bersalah. Lebih rasa berdosa. Lebih rasa hina. Lebih rasa cemas dan bimbang. Tetapi berlaku sebaliknya. Setelah kita bertaubat, hilang sifat-sifat hamba kita. Tumbuh pula sifat-sifat ketuanan yang dibenci Tuhan dalam hati kita. Tumbuh sifat-sifat mazmumah seperti merasakan diri tidak berdosa. Merasa diri suci dan bersih . Hilang rasa bimbang. Hilang rasa takut dan cemas. Merasa diri selamat. Merasa diri sudah layak masuk syurga. Inilah angkara tipuan syaitan.

Memang, bagi kita umat Rasulullah, bertaubat itu mudah. Tetapi tipudaya syaitan terhadap orang yang bertaubat juga sangat halus dan sukar dikesan. Berapa ramai orang yang bertaubat tetapi tidak mendapat keampunan Tuhan tetapi sebaliknya dilaknat pula oleh Tuhan . Hubungannya dengan Tuhan lebih baik sebelum dia bertaubat. Walaupun sebelum bertaubat itu dia berdosa, setidak-tidaknya dia tahu dia berdosa, dia merasa dirinya berdosa dan dia rasa bersalah dengan Tuhan. Dia takut. Dia bimbang. Dia cemas. Dia risau kalau-kalau Tuhan murka padanya. Sifat hambanya lebih tajam sebelum dia bertaubat. Rasa-rasa inilah sebenarnya yang menyebabkan Tuhan sayang dan kasihan pada hamba-hambaNya.

Apa ertinya kalau kasih sayang Tuhan ini hilang selepas kita bertaubat. Apa ertinya kalau kita menjadi angkuh dan tidak beradab dengan Tuhan setelah kita bertaubat. Apa ertinya kita bertambah jauh dari Tuhan setelah kita bertaubat. Inilah taubat palsu namanya. Kita wajib bertaubat dari taubat palsu seperti ini.

Thursday, April 24, 2008

Insan Yang Solat 1000 Rakaat Sehari

Siang dan malam tiada yang dilakukan kecuali hanya rukuk dan sujud kepada Allah. Setiap sehari semalam ia solat tidak kurang dari 1,000 rakaat. Dirinya hanya untuk beribadah kepada Allah. Ia selalu berusaha agar dirinya setingkat dengan para malaikat yang sentiasa bertasbih siang dan malam yang tidak pernah lupa berzikir kepada Allah walau sesaat pun. Setiap hari ia hanya makan beberapa suap saja, sekadar ia dapat hidup; kerana itu badannya sangat kurus. Tetapi dalam badan yang kurus itu terdapat kekuatan rohani yang mengagumkan yang menyebabkan ia dapat melaksanakan solat yang ia tekankan atas dirinya.

Ia hidup membujang; meskipun khalifah Muawiyah Ibnu Sufyan telah menawarkan padanya untuk melamar wanita yang ia senangi; dan mas kahwinnya akan diambilkan dari Baitul Mal, tapi Amir Ibnu Abdullah hanya ingin mengabdikan dirinya kepada Allah, ia bertekad tidak akan ada sesuatu yang dapat melalaikannya dari beribadah kepada Allah.

Ia adalah seorang tabi’in yang mencapai puncak zuhud. Ia berkata: “Kenikmatan dunia itu ada empat, harta, wanita, tidur dan makanan. Adapun harta dan makan, aku tidak dapat meninggalkannya. Tetapi demi Allah, dengan tidur dan makan aku memeras tenagaku.”

Keperluannya pada tidur dan makan menyerupai keperluannya pada solat malam dan puasa di siang harinya. Setiap syaitan berusaha mendekati tempat sujudnya, maka ia mencium bau syaitan yang busuk; dan jika ia mendapatkan bau syaitan, maka ia menyingkirkan dengan tangan dan berkata: “Andaikan bukan kerana bau busukmu, nescaya aku sujud di atasmu.”

Pada suatu ketika syaitan datang padanya dengan menjelma menjadi ular, ketika ia menyingkirkannya dengan tangan, syaitan berkata: “Apakah kamu tidak takut digigit ular?” Jawabnya: “Sungguh aku malu kepada Allah jika aku takut kepada selain Dia.”

Amir terus meneruskan solat sepanjang siang dan malam, hingga betis dan telapak kakinya bengkak. Ia selalu berkata: “Wahai jiwa yang selalu mengajak kepada kejahatan, sesungguhnya kamu diciptakan untuk beribadah. Demi Allah, aku akan memaksamu melakukan ibadah tanpa ada kesempatan untuk tidur. Setiap hari ia pergi ke suatu bukit untuk menjauhkan diri dari keramaian orang, dan mengisinya dengan beribadah di sana.

Pada suatu hari, ia keluar rumah dan terus berjalan hingga sampai di lembah “Buas,” dinamakan lembah buas kerana di situ banyak terdapat binatang buas. Tiada seorang pun yang berani memasuki lembah itu kecuali orang-orang sufi yang berhati tulus, yang hati dan jiwa mereka hanya takut kepada Allah, mereka tidak takut pada apa pun kecuali Allah; meskipun binatang buas atau ular berbisa.

Ketika Amir menuruni lembah itu, ia dapatkan di lembah itu ada ahli sufi lain seperti dirinya, ia bernama “Humamah” solat di suatu sudut. Keduanya berada di lembah selama empat puluh hari tanpa saling berbicara, kerana masing-masing sedang tekun beribadah dan solat.

Suatu ketika Amir Ibnu Abdullah ingin mengenal orang yang tinggal di lembah itu dan giat dalam beribadah, maka ia datang pada orang itu dan bertanya: “Siapakah kamu, hai hamba Allah?” Orang itu berkata: “Tinggalkan aku.” Kata Amir, “Aku bersumpah tidak akan meninggalkan kamu sebelum aku tahu dirimu.” Kata orang itu, “Aku Humamah Al-Habsyi.”

Kata Amir, “Jika kamu Humamah Al-Habsyi seperti yang pernah aku dengar, kamu pasti orang yang paling banyak beribadah di dunia ini. Beritahukan padaku perkara yang paling utama.” Kata Humamah. “.. Andaikan bukan kerana beberapa ketentuan solat yang mengharuskan berdiri dan sujud, nescaya aku lebih senang menghabiskan umurku untuk terus rukuk dan membiarkan wajahku bersujud kepada Allah hingga aku bertemu dengan-Nya. Akan tetapi solat-solat fardhu tidak membolehkan aku melakukan itu. Dan siapakah kamu?” Jawab Amir. “Aku Amir Ibnu Abdu Qais.”

Kata Humamah, “Jika kamu Amir seperti yang pernah aku dengar, pasti kamu seorang yang paling banyak beribadah. Maka beritahukan padaku perkara yang paling utama.” Kata Amir. “Sungguh rasa takutku kepada Allah membuat aku tidak takut kepada apa pun kecuali pada-Nya.”

Di saat Amir dan Humamah sedang berbicara tentang ibadah dan taat kepada Allah, tiba-tiba datang seekor binatang buas di belakang Amir dan meloncat ke atasnya, maka Amir menyapu binatang itu dengan tenang sambil membaca ayat Al-Quran, “Dzaalika yaumu majmuu’ul lahunnasu wa dzaalika yaumun masyhud.” “Hari kiamat itu adalah hari yang mana manusia dikumpulkan untuk (menghadap)Nya, dan hari itu adalah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).”

Tiba-tiba binatang buas itu duduk mengibaskan ekornya seperti kucing yang jinak. Ketika Humamah menyaksikan hal itu, ia bertanya pada Amir: “Demi Allah, wahai Amir, bagaimana kamu boleh berbuat demikian?” Jawab Amir: “Bukankah sudah kukatakan padamu, sungguh aku malu kepada Allah jika aku takut selain Dia.”

Ia adalah seorang ahli zuhud, bujangan yang mempunyai rumah. Ia mempunyai saudara perempuan wanita yang bernama Ubadah yang setiap hari membuatkannya roti dan mengirimkan roti itu kepadanya. Tapi setiap ia menerima kiriman roti, ia segera keluar mengundang anak-anak yatim untuk makan roti tersebut. Ia berkata pada saudara sepupunya: “Wahai Ubadah, sabarlah atas apa yang menimpamu di dunia ini dengan membaca Al-Quran, kerana barangsiapa yang tidak senang membaca Al-Quran, maka ia akan meninggalkan dunia dalam keadaan menyesal.”

Pada hari-hari tertentu, Amir Ibnu Abdu Qais mengadakan majlis di masjid. Di antara kata yang pernah disampaikan kepada majlisnya; Aku pernah bertemu dengan beberapa sahabat Rasulullah dan bergaul dengan mereka; mereka memberitahu aku, bahawasanya pada hari kiamat, orang yang paling suci dari dosa ialah orang yang paling memperhitungkan dirinya dalam setiap langkahnya; orang yang paling senang di dunia, akan menjadi orang yang paling sedih di hari kiamat; dan orang yang paling banyak tertawa di dunia, ia akan menjadi orang yang paling banyak menangis di hari kiamat.”

Walaupun Amir seorang yang zuhud, ia tidak membiarkan seseorang yang berbuat zalim, meskipun orang yang dizalimi itu bukan orang Islam. Pada suatu hari, ia menyaksikan orang kafir dzimmi ditarik oleh beberapa orang yang menjadi kaki tangan penguasa Basrah. Orang dzimmi itu minta tolong padanya, maka ia melepaskannya dari seksaan mereka dan berkata kepada mereka. “Jangan menyeksa seorang dzimmi yang telah dijamin oleh Rasulullah SAW selagi aku masih hidup.” Setelah gabenor Basrah mengetahui apa yang diperbuat oleh Amir, maka ia memerintahkan supaya Amir dibuang ke Syam, agar Amir tidak akan kembali padanya atau melakukan sesuatu yang bukan haknya.

Tatkala Amir akan berangkat ke Syam, ia mengumpulkan kawannya untuk mengantarkan ke perbatasan kota, ia berkata pada mereka: “Aku hendak berdoa kepada Allah, maka ucapkanlah ‘amin’.” Kawan-kawannya mengira akan berdoa kerana pembuangannya. Mereka berkata: “Sebenarnya kami telah menginginkan kamu berdoa.” Maka ia mengangkat kedua tangan dan berdoa: “Ya Allah, siapa yang memfitnah aku, mendustakan aku, mengeluarkan aku dari kota ini dan memisahkan aku dari kawan-kawanku; Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, sihatkanlah badannya dan panjangkanlah umurnya.”

Demikian itulah sifat Amir Ibnu Qais, ia mendoakan orang-orang yang telah berbuat zalim padanya dan mengusirnya dari Basrah tempat ia tinggal bersama keluarganya dan tempat berguru kepada Abu Musa Al-Asyari agar mereka diberi harta dan anak yang banyak, disihatkan badannya dan dipanjangkan umurnya.

Amir meninggal dunia dalam keadaan tidak memiliki apa-apa sebagaimana ia lahir di dunia dengan tangan kosong. Ia hanya membawa bekal amal soleh yang menghantarkan ia sampai mencapai tingkat orang-orang soleh yang berbakti kepada Allah.

Taubat Para Wali

Zun Nun Al-Misri mendengar bahawa ada seorang yang sangat alim dan zuhud, maka pergilah dia ke sana untuk belajar. Sesampainya di sana dia menjumpai seorang lelaki menggantungkan dirinya pada sebatang pokok dengan kepala ke bawah. Orang itu berkata: “Wahai diri! Tolonglah aku dalam mentaati Allah. Kalau tidak nescaya aku akan hukum engkau dalam keadaan seperti ini sampai engkau mati kelaparan.”

Zun Nun mendekati orang itu lalu memberi salam dan dia menjawab.

“Apa yang telah terjadi dengan engkau ini?” Tanya Zun Nun.

“Tubuhku ini telah menghalangi aku untuk berseronok dengan Allah, kerana ingin bersuka-suka dengan manusia.” Jawab orang itu.

Dengan jawapan itu, Zun Nun menyangka bahawa orang itu telah menumpahkan darah sesama Muslim atau telah berbuat dosa besar lainnya.

“Apa yang telah engkau lakukan?” Tanya Zun Nun.

“Tahukah engkau bahawa jika seseorang itu bercampur baur dengan orang lain, banyak perkara yang boleh berlaku?”

“Kalau begitu, engkau ini betul-betul orang warak dan alim,” kata Zun Nun.

“Mahukah aku tunjukkan kamu orang yang lebih alim dariku?” kata orang itu.

“Boleh juga,” kata Zun Nun.

“Nah, sekarang pergilah engkau agak ke atas bukit ini. Insya Allah, engkau akan berjumpa dengan wali Allah yang saya maksudkan itu,” kata lelaki itu.

Maka segeralah Zun Nun mendaki agak sedikit ke atas lagi sehingga akhirnya ia berjumpa dengan satu tempat pertapaan yang di dalamnya ada seorang pemuda sedang duduk bersila, sementara di hadapan pintu pertapaan itu ada sebelah kaki yang terpotong membusuk dan dimakan ulat. Zun Nun sangat ngeri dan tidak faham apa yang dilihatnya itu. Maka diapun bertanya kepada pemuda tersebut apa ertinya semuanya itu.

Pemuda itu menerangkan bahawa pada suatu hari dia sedang duduk di dalam beribadahnya, tiba-tiba ada seorang perempuan yang melintas di luar. Apabila dia terpandang kepadanya, timbul keinginannya kepada wanita cantik itu dan cuba untuk mengejarnya dari belakang.

Akan tetapi, baru saja dia melangkahkan sebelah kakinya ke luar dari tempatnya, tiba-tiba dia mendengar suara: “Wahai manusia, apakah engkau tidak merasa malu? Setelah tiga puluh tahun engkau menghadapkan hati kepada Tuhan, tiba-tiba sekarang engkau telah mahu ditipu oleh syaitan dan akan mengejar perempuan jahat itu.”

Disebabkan kerana kesalahannya itulah, pemuda itu telah memotong sebelah kakinya yang telah terlanjur keluar dari tempat ibadahnya.

“Jadi aku ini sebenarnya orang berdosa,” kata lelaki itu. “Maka dari itu engkau tidak patut menemuiku yang sedang dalam penantian keputusan ini. Jika engkau ingin menjumpai seorang yang betul-betul wali, pergilah engkau ke puncak bukit ini.”

Sayang puncak bukit tersebut terlalu tinggi dan sukar untuk didaki sehingga Zun Nun tidak sanggup mencapainya. Sebaliknya dia hanya mendengarkan saja cerita si pertapa dari orang-orang yang mengetahuinya.

Katanya ada seorang lelaki yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya kepada Allah. Dia telah bersumpah untuk tidak makan selain dari usahanya sendiri dan tidak akan makan makanan yang telah diproses. Dengan izin Allah, sekumpulan lebah telah membuat sarang di dekat tempat ibadahnya, dengan madu lebah itulah wali tersebut mengalas perutnya.

Ketua Perompak Yang Bertawaf

Diriwayatkan oleh Asy-Syibli: Dahulu saat kami bergabung dengan rombongan orang-orang Syam, tiada terfikir olehku bahawa kami akan diserang oleh sekumpulan orang-orang Badwi, dan membawa kami menghadap kepada ketua mereka.

Pemimpin mereka itu lalu mengeluarkan sebuah geriba yang mengandungi gula tebu dan buah badam. Disantaplah jamuan itu oleh orang-orang Badwi yang merupakan anak buah dan pengikutnya, namun demikian pemimpin mereka justeru tidak ikut makan bersama mereka walaupun sedikit.

Melihat keanehan itu, aku pun bertanya, “Mengapa tuan tidak ikut makan beserta mereka?”

“Aku sedang berpuasa,” jawabnya.

“Bagaimana mungkin, bukankah tuan telah melakukan pelbagai perbuatan jenayah seperti merompak, merampas harta-benda orang dan melakukan pembunuhan, tetapi mengapa masih tetap berpuasa seperti sekarang ini?” tanyaku kepadanya dengan penuh hairan.

“Wahai syeikh, jadikanlah suatu tempat bagi perdamaian,” serunya kepadaku.

Selang beberapa waktu lamanya, kulihat dia sedang melakukan tawaf di sekeliling Kaabah dengan mengenakan pakaian ihram yang kasar bagaikan sebuah kulit keras lagi buruk. Melihat itu, aku lalu bertanya, “Engkaukah lelaki pemimpin kaum Badwi itu?”

“Benar, puasa itulah yang telah menghantarkanku sampai pada tingkatan seperti ini,” jawabnya.

Taubat Sahabat Rasulullah

Abu Sufyan bin Haris

Abdurrahman bin Sabit meriwayatkan, bahawa Sufyan bin Haris adalah saudara sesusuan Rasulullah SAW dari seorang wanita yang sama iaitu Halimah As-Sa’diyah. Di samping itu dia pun sudah sangat biasa bergaul dengan Rasulullah SAW kerana dia memang sebaya dengan baginda.

Ketika baginda diutus oleh Allah SWT sebagai Rasul-Nya, maka Abu Sufyan pun memusuhinya dengan permusuhan yang tidak pernah dilakukan oleh seseorang terhadap diri baginda. Dia menyerang Rasulullah SAW begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Bahkan selama dua puluh tahun dia menjadi musuh Rasulullah SAW saling serang menyerang dengan kaum Muslimin.

Dalam setiap kali peperangan yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dengan kaum Muslimin, Abu Sufyan bin Haris tidak pernah ketinggalan, sehingga akhirnya Allah SWT berkenan memasukkan sinar Islam dalam lubuk hatinya. Abu Sufyan bin Haris berkata: “Siapakah yang akan menjadi temanku, sedangkan kehadiran Islam semakin hari semakin kukuh?” Selepas itu ia menemui isteri dan anak-anaknya, lalu ia berkata: “Wahai isteri dan anak-anakku, bersiap-siaplah untuk keluar, kerana Muhammad tidak lagi akan datang!”

Anak-anak dan isterinya menjawab: “Sepatutnya telah terlalu awal lagi engkau menyedari, bahawa orang-orang Arab bahkan begitu juga orang-orang di luar bangsa Arab telah mengikutinya, sedangkan kamu sendiri masih tetap memusuhinya. Sepatutnya engkaulah orang yang pertama sekali membantunya!”

Kepada pelayannya Abu Sufyan memerintahkan: “Cepat bawa kemari unta dan kuda!”

Setelah unta dan kuda disiapkan, Abu Sufyan bersama dengan isteri dan anak-anaknya pun berangkat, hingga akhirnya mereka sampai di Abwa’, sedangkan pasukan pertama Rasulullah SAW sudah terlebih dahulu sampai di kota itu. Maka Abu Sufyan pun menyamar kerana takut di bunuh oleh pasukan Rasulullah SAW dan hanya berjalan kaki kira-kira satu mil.

Pada waktu itu pasukan Rasulullah SAW sudah mulai datang membanjiri kota Abwa’. Maka Abu Sufyan pun menyingkir kerana merasa takut dengan sahabat-sahabat baginda. Ketika Rasulullah SAW sudah mulai kelihatan yang sedang diiringi oleh para rombongan, Abu Sufyan pun segera berdiri di hadapannya. Ketika baginda melihatnya, ia langsung memalingkan mukanya ke arah lain. Abu Sufyan pun berpindah tempat ke arah baginda memalingkan muka. Namun baginda tetap terus memalingkan mukanya ke arah yang lain pula.

Dalam hati Abu Sufyan berkata: “Sebelum aku sampai kepadanya, mungkin aku akan mati terbunuh, akan tetapi aku ingat akan kebaikan dan kasih sayangnya, justeru itulah rasa harapan masih tetap ada dalam hatiku. Dari semenjak dulu lagi aku berkeyakinan, bahawa Rasulullah berserta para sahabatnya akan sangat bergembira bila aku masuk Islam, kerana adanya tali persaudaraanku dengan baginda.”

Melihat Rasulullah SAW berpaling dari Abu Sufyan, maka kaum Muslimin pun berpaling darinya. Dia melihat putera Abu Quhafah iaitu Abu Bakar Siddik pun berpaling darinya. Abu Sufyan memandang ke arah Umar yang sedang bangkit amarahnya, dalam keadaan marah Umar berkata: “Wahai musuh Allah, kamu adalah orang yang selalu menyakiti Rasulullah SAW dan para sahabatnya! Bahkan permusuhanmu itu terhadap umat Islam telah diketahui orang baik yang berada di belahan dunia Timur mahupun Barat!”

Mendengar ungkapan dari Umar tersebut, maka Abu Sufyan berusaha untuk membela dirinya. Akan tetapi usahanya itu tidak berhasil, kerana Umar meninggikan suaranya dan Abu Sufyan merasakan pada saat itu bahawa dirinya sudah terkepung oleh hutan belukar manusia yang merasa gembira atas apa yang terjadi pada dirinya.

Dalam keadaan demikian Abu Sufyan berkata: “Wahai bapa saudaraku Abbas, dulu aku pernah datang ke rumahmu serta berharap bahawa Rasulullah SAW akan merasa bergembira jika aku masuk Islam, kerana antara diriku dengan dirinya ada pertalian saudara, di samping itu kami keduanya dari kalangan keluarga terhormat. Akan tetapi kenyataan sebagaimana yang engkau saksikan sendiri wahai bapa saudaraku, mereka seakan-akan tidak mahu menerima kehadiranku! Untuk itu aku bermohon kepadamu wahai bapa saudaraku, supaya engkau berkenan mengajak Muhammad berunding mengenai diriku, sehingga ia redha terhadapku!”

Bapa saudaranya menjawab: “Tidak, demi Allah, setelah aku menyaksikan semuanya ini, sepatah katapun aku tidak mahu berunding dengannya, kecuali jika ada alasan yang lebih kuat!”

Abu Sufyan bertanya: “Wahai bapa saudaraku, dengan siapa lagi aku harus mengadu?”

“Pergilah kamu mengadu ke sana,” jawab bapa saudaranya.

Kemudian Abu Sufyan menemui Ali bin Abi Talib serta mengajaknya berbicara. Akan tetapi jawapan yang diberikan oleh Ali sama saja dengan jawapan bapa saudaranya Abbas. Sehingga akhirnya ia terpaksa lagi pergi kepada bapa saudaranya Abbas serta memohon kepadanya: “Aku mohon kepadamu wahai bapa saudaraku, sudilah kiranya engkau mencegah orang-orang mencaci makiku.”

Abbas bertanya: “Siapa sebenarnya orang yang mencaci makimu itu?”
Abu Sufyan menjelaskan ciri-ciri orangnya: “Dia adalah orang yang berkulit kuning langsat, tubuhnya agak pendek, gemuk dan di antara kedua matanya terdapat bekas luka.

Abbas menjawab: “Dia adalah Nu’aiman bin Haris An-Najjari.”

Maka Bapa saudaranya Abbas pun menemuinya dan berkata: “Wahai Nu’aiman, Abu Sufyan adalah anak dari bapa saudara Rasulullah SAW dan dia juga anak saudaraku sendiri, walaupun Rasulullah SAW kelihatan tidak menyukainya. Akan tetapi aku yakin, bahawa masih ada harapan baginya untuk mendapatkan keredhaan Rasulullah SAW. Oleh kerana itu aku memohon kepadamu supaya kamu berhenti dari mencaci makinya.

Mendengar ungkapannya dari Abbas itu maka Nu’aiman berkata: “Baiklah, aku tidak akan mengganggunya lagi.”

Pada waktu itu Abu Sufyan sungguh merasa menderita, kerana tidak ada seorangpun yang mahu menegurnya. Walaupun demikian dia tetap berusaha, setiap kali Rasulullah SAW singgah di sebuah rumah, ia tetap berada di depan pintu rumah tersebut. Namun Rasulullah SAW tetap tidak pernah melihatnya dan memalingkan wajah dari dirinya.
Walaupun dalam keadaan demikian, dia terus tetap berusaha untuk mendapatkan keredhaan dari Rasulullah SAW, sehingga akhirnya dia menyaksikan sendiri Rasulullah SAW bersama dengan pasukan kaum Muslimin lainnya menaklukkan kota Makkah.

Abu Sufyan tetap terus berada dekat kuda yang ditunggangi oleh Rasulullah SAW sehingga akhirnya baginda singgah di Abtah. Pada saat itu Rasulullah SAW memandang Abu Sufyan dengan pandangan yang agak lembut dari sebelumnya, dan Abu Sufyan mengharapkan mudah-mudahan Rasulullah mahu senyum kepadanya.

Beberapa kaum wanita dari bani Abdul Mutalib datang menemui baginda yang diikuti oleh isteri Abu Sufyan. Setelah itu Rasulullah SAW pergi ke masjid, Abu Sufyan pun tetap setia mengikuti baginda dan tidak sedikitpun ingin berpisah dengannya.

Akhirnya Rasulullah SAW berangkat menuju Hawazin dan Abu Sufyan pun masih tetap mengikutinya. Pada waktu terjadinya peperangan melawan musuh, maka Abu Sufyan pun segera memacu kudanya dengan sebilah pedang yang terhunus, dan ia bertekad, untuk menebus dosa-dosanya selama ini, tidak ada jalan lain kecuali ia harus mati dalam memperjuangkan agama Allah.

Melihat keadaan demikian, kepada Rasulullah, Abbas bapa saudara Abu Sufyan bin Haris berkata: “Wahai Rasulullah, aku bermohon supaya engkau berkenan meredhainya.”

Rasulullah SAW bersabda: “Aku telah meredhainya dan Allah pun telah berkenan mengampunkan segala kesalahannya dan segala bentuk permusuhan yang dilakukannya kepadaku selama ini.”

Mendengar ungkapan Rasulullah demikian, maka Abu Sufyan pun segera mencium kaki Rasulullah yang pada saat itu sedang menunggang kudanya. Maka pada saat itu Rasulullah SAW menoleh ke arah Abu Sufyan dan bersabda: “Engkau adalah benar-benar saudaraku!”

Selepas itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada Abbas agar memerintahkan kepada seluruh pasukan perang supaya maju ke medan perang dengan kata-kata: “Majulah kamu dan binasakanlah musuh-musuh itu.”

Kerana telah mendapat perintah dari Rasulullah SAW, maka Abu Sufyan segera melaksanakan tugasnya. Cuma dengan hanya sekali serangan saja, para tentera musuh berlari kucar kacir. Mereka tidak berani membalas serangan tersebut, sehingga akhirnya Abu Sufyan berhasil mengejar mereka dan tentera musuh lari sejauh tiga mil.

Demikianlah Abu Sufyan, semenjak dia masuk ke dalam Islam, ia sentiasa taat beribadah kepada Allah SWT bahkan dalam suatu riwayat pula dikatakan, bahawa Abu Sufyah tidak pernah mengangkat kepalanya apabila ia berada di depan Rasulullah SAW. Begitu juga pada waktu ajal akan menjemputnya ia berpesan: “Jangan engkau menangisi aku, kerana semenjak aku masuk Islam, aku tidak pernah berbuat dosa.”

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, Abu Sufyan bin Haris selalu menangisi dan meratapinya dengan syairnya:

Aku tidak dapat tidur dan malam pun susah berakhir
Malam bagi orang yang ditimpa bencana akan lama rasanya.
Tangisanku membuatkan aku bahagia
Sesungguhnya musibah yang menimpa kaum Muslimin itu tidaklah seberapa
Betapa besar dan beratnya cubaan ini
pada waktu mendengar berita bahawa Rasulullah sudah tiada
Bumi tempat tinggal kita inipun ikut serta menderita
sehingga terasa miring segala sudutnya.
Telah terputuslah wahyu Al-Quran dari kita
di mana dahulu malaikat Jibril selalu datang membawanya.
Dialah Nabi yang telah melenyapkan syak wasangka kita
dengan wahyu yang diturunkan kepadanya dan sabdanya
Bagindalah yang telah menunjuki kita
sehingga kita tidak perlu bimbang dan terpedaya
Rasulullah selalu siap memberikan petunjuknya kepada kita
Fatimah, jika kamu bersedih meratapinya, hal yang demikian itu dapat kami mengerti.
Akan tetapi jika engkau tidak bersedih, itulah jalan yang baik yang telah ditunjukkannya.
Makam ayahku adalah makam dari setiap makam
kerana di dalamnya bersemayam seorang Rasul
tuan bagi seluruh manusia.

Ikrimah Bin Abu Jahal

Abu Ishaw As-Ayabi’i meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, maka Ikrimah berkata: Aku tidak akan tinggal di tempat ini!” Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata: “Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy?” Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?”

Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya.

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka kepada Rasulullah isteri Ikrimah berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman kerana ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Justeru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”

Rasulullah SAW menjawab: “Dia akan berada dalam keadaan aman!” Mendengar jawapan itu, maka isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah. Ketika Ikrimah menaiki kapal, maka orang yang mengemudikan kapal tersebut berkata kepadanya: “Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”

Ikrimah bertanya: “Apakah yang harus aku ikhlaskan?”

“Ikhlaskanlah bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahawa Muhammad adalah utusan Allah!” Kata pengemudi kapal itu.

Ikrimah menjawab: “Tidak, jesteru aku melarikan diri adalah kerana ucapan itu.”

Selepas itu datanglah isterinya dan berkata: “Wahai Ikrimah putera bapa saudaraku, aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah SAW.”

Kepada isterinya Ikrimah bertanya: “Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?”

Isterinya menjawab: “Benar, aku telah berbicara dengan baginda dan baginda pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu.”

Begitu saja mendengar berita gembira dari isterinya itu, pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya, akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata: “Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”

Kepada isterinya Ikrimah berkata: “Penolakan kamu itu adalah merupakan suatu masalah besar bagi diriku.”

Tidak lama selepas Ikrimah bertemu dengan isterinya itu, mereka pun pulang kembali, setelah mendengar berita bahawa Ikrimah sudah pulang, maka Rasulullah SAW segera ingin menemuinya. Kerana rasa kegembiraan yang tidak terkira, sehingga membuatkan Rasulullah SAW terlupa memakai serbannya.

Setelah bertemu dengan Ikrimah, baginda pun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada di hadapan Rasulullah SAW Ikrimah lalu berkata: “Sesungguhnya aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah utusan Allah.”

Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat merasa gembira, selanjutnya Ikrimah kembali berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan.”

Rasulullah SAW menjawab: “Ucapkanlah bahawa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ikrimah kembali bertanya: “Selepas itu apa lagi?” Rasulullah menjawab: “Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahawa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW selepas itu baginda bersabda: “Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, nescaya aku akan mengabulkannya.”

Ikrimah berkata: “Aku memohon kepadamu ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu.”

Maka Rasulullah SAW pun berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku mahupun tidak.”

Mendengar doa yang dipohon oleh Rasulullah SAW itu, alangkah senangnya hati Ikrimah, maka ketika itu juga ia berkata: “Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya, aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”

Demikianlah keadaan Ikrimah, setelah ia memeluk Islam, ia sentiasa ikut dalam peperangan hingga akhirnya ia terbunuh sebagai syahid. Semoga Allah berkenan melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada Ikrimah.

Dalam riwayat yang lain pula diceritakan, bahawa ketika terjadinya Perang Yarmuk, Ikrimah juga ikut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki, pada waktu itu Khalid bin Walid mengatakan: “Jangan kamu lakukan hal itu, kerana bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”

Ikrimah menjawab: “Kerana kamu wahai Khalid telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah SAW, maka biarlah hal ini aku lakukan!”

Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Pada waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. Abdullah bin Mas’ud pula berkata: Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata: “Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku.” Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.

Dalam riwayat yang lain pula ditambahkan: “Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.” Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Semoga Allah melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga. Amin.”