CARI TAJUK UTAMA
Showing posts with label sirah. Show all posts
Showing posts with label sirah. Show all posts

Wednesday, May 14, 2008

Anjing Neraka

Sabda Rasulullah s.a.w. kepada Mu'adz, "Wahai Mu'adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan :

· Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin.
· Bacalah Al-Quran
· Tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain.
· Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain.
· Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka.
· Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat.
· Jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik.
· Jangan engkau membisikkan sesuatu sedang dekatmu ada orang lain.
· Jangan engkau merasa tinggi dan mulia daripada orang lain.
· Jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu.

Nescaya di akhirat nanti, kamu akan dirobek-robek oleh anjing neraka. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud, "Demi (bintang-bintang) yang berpindah dari satu buruj kepada buruj yang lain."
Sabda Rasulullah s.a.w., "Dia adalah anjing-anjing di dalam neraka yang akan merobek-robek daging orang (menyakiti hati) dengan lisannya, dan anjing itupun merobek serta menggigit tulangnya."
Kata Mu'adz, " Ya Rasulullah, siapakah yang dapat bertahan terhadap keadaan seperti itu, dan siapa yang dapat terselamat daripadanya?" Sabda Rasulullah s.a.w., "Sesungguhnya hal itu mudah lagi ringan bagi orang yang telah dimudahkan serta diringankan oleh Allah s.w.t."

Tuesday, May 13, 2008

Orang yang paling berani

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Masnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, "Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, "Hai kaum Muslimin, siapakah orang yang paling berani ?" Jawab mereka, "Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin." Kata Ali, "Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami membuatkan Nabi Muhammad s.a.w. gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemankan Nabi Muhammad s.a.w. dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia melainkan Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi Muhammad s.a.w. untuk membunuh siapa sahaja yang mendekati gubuk Nabi Muhammad s.a.w. Itulah orang yang paling berani."

"Pada suatu hari juga pernah aku menyaksikan ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakiti beliau dan mereka berkata, "Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?" Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi Muhammad s.a.w. selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, "Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah?"
Kemudian sambil mengangkat kain selendangnya beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, "Adakah orang yang beriman dari kaum Firaun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?" Semua jamaah diam sahaja tidak ada yang menjawab. Jawab Ali selanjutnya, "Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Firaun walaupun mereka sepuluh dunia, kerana orang beriman dari kaum Firaun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya."

Wednesday, May 7, 2008

Mengapa Cinta Dan Rindukan Rasulullah

Rasulullah itu adalah orang yang sangat dicintai oleh para sahabatnya, umumnya para sahabat mencintai Rasulullah Saw, walau ada sebagian sahabat yang diam-diam membenci Rasulullah. Tetapi mayoritas sahabat itu sangat mencintai Rasulullah Saw.

Pernah suatu malam Rasulullah mendengar suara beberapa orang di luar kamarnya, Rasulullah menegur: “Kenapa kalian berkumpul di sini?” lalu mereka menjawab: “Ya Rasulullah, kami tidak bisa tidur khawatir ketika kami tidur nanti, orang-orang kafir datang dan membunuhmu.” Mereka sukarela menjadi satpam Rasulullah Saw, datang sendiri, tidak dibayar. Tetapi Rasulullah Saw mengatakan, “Tidak, Allah melindungi aku, pulanglah kamu ke tempat kamu masing-masing.”

Ada seorang pedagang minyak wangi, di Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia hanya mengucapkan salam lalu memandang Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu saat setelah dia ketemu Rasululllah dia pergi, lalu tak lama kemudian balik lagi dari pasar dan dia datang kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak bisa melihat engkau setelah ini.” Dan Rasulullah mengizinkannya.

Kemudian, setelah kejadian itu Rasulullah tidak pernah melihat lagi tukang minyak wangi itu. Disuruhnya sahabatnya pergi melihat, ternyata ia sudah meninggal dunia tidak lama setelah dia pergi dari pasan dan memandang wajah Rasulullah Saw itu. Lalu kata Rasulullah Saw: “Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkan dia di hari akhirat.”

Ada lagi seorang sahabat Rasulullah bernama Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada malam hari Abu Ayub dan istrinya tidak bisa tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya, semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau atas cinta yang tulus dari Abu Ayub.

Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah kaget lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!” Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!”

Ada lagi seorang sahabat, yang setelah Rasulullah meninggal dunia, membanggakan mulutnya yang tidak ada gigi lagi. Saat perang Uhud itu juga, Rasulullah cedera karena rantai pelindung kepalanya menusuk pipinya. Lalu seorang sahabat menarik rantai itu dengan giginya, tapi sebelum rantai itu keluar, seluruh giginya rontok. Dia bangga bahwa giginya itu berjatuhan karena membela Rasulullah yang dicintainya. Sehingga menjadi satu kebahagiaan tersendiri. Ini, sekali lagi masalah cinta, dan cinta itu selalu tidak wajar.

Ada satu contoh lagi kecintaan orang kepada Rasulullah Saw. Menjelang suatu peperangan, Rasulullah sedang membariskan pasukannya karena Rasulullah selalu merapikan barisan pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat, mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian Rasulullah lewat dan memukul perutnya itu agar dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu, lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium perutnya. Rasulullah kaget dan berkata: “Ada apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh, mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia, sempat mencium perutmu yang mulia.”

Dan sahabat itu kemudian gugur di medan perang setelah mencium perut Rasulullah Saw. Rupanya ini hanya strategi dia agar bisa mencium perut Rasulullah Saw.

Kelak, setelah Rasulullah meninggal dunia, kecintaan para sahabat itu diungkapkan dengan kerinduan yang luar biasa kepada Rasulullah Saw.

Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat Rasulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rasulullah Saw.

Mengapa Rasulullah dirindukan atau dicintai? Itu bukan hanya karena Allah SWT membuka hati mereka untuk rindu, tetapi karena akhlak Rasulullah yang menarik kecintaan mereka. Dan akhlak itu adalah Sunnah. Sekiranya kita mencontoh akhlak beliau ini, pasti kitapun akan dicintai oleh banyak manusia. Tentu tidak oleh semua manusia, karena Rasulullah juga tidak dicintai oleh sem ua manusia, tidak dicintai oleh semua sahabat dan tidak dicintai oleh semua makhluk. Tapi sekiranya kita mempraktekkan akhlak Rasulullah itu dalam pergaulannya dengan orang banyak, pasti kitapun akan menjadi manusia, yang dicintai oleh kebanyakan umat manusia

Thursday, May 1, 2008

Kisah Rabi'atul Adawiyah Al-Basriyah

Rabi'atul Adawiyah Al-Basriyah kecintaannya kepada Allah hingga malaikat boleh berbicara dengannya atas perintah Allah....sama seperti yang dialami oleh iman al ghazali boleh berbicara dengan malaikat hingga diajar Allah ilmu ilmu untuk akhirat melalui malaikat. barulah aku faham maksud Allah didalam quran "bahwa Allah akan menunjuk dan membimbing sesiapa yang dikehendakinya" bermaksud mereka yang ikhlas dan cintakan Allah dan rasulnya... buktinya.... lihat kisah ini , iman al ghazali dan kisah diluar negara seorang budak yang dilahirkan dari perut org kristien yang pandai solat 5 waktu dan pandai membaca quran serta berceramah kepada umum supaya mengikuti ajaran rasulullah s.a.w, INI SEMUA BUKTI YANG ALLAH TERAMAT CINTAKAN HAMBANYA CUMA HAMBANYA SAHAJA YANG TIDAK MAHU MENCARI TUHANNYA. dan ada kisah yang pelik pelik yang ditunjukkan Allah namun kebenaran memang manusia tidak akan menerimanya... contohnya telah ditunjukkan Allah.. dan memang benarlah firman Allah jika quran boleh membuatkan gunung berkata kata sekalipun manusia tidak akan beriman dengan sebenar benarnya dan boleh dikatakan manusia tertutup hatinya dan akalnya oleh syaitan walaupun mereka berkata syaitan tidak boleh mendampinginya.... cara paling mudah adalah.... jika seseorang menunjukkan satu ajaran... sila tengok dan pastikan dengan betulnya bahawa ianya mesti berdasarkan al-quran dan sunnah rasulullah.... jika tidak tolak sahaja ajarannya... agar tidak merosakkan aqidah manusia dan agar tidk menangia diakhirat nanti. Ibubapa Rabia'atul-adawiyyah adalah orang miskin.


Hinggakan dalam rumah mereka tidak ada minyak untuk memasang lampu dan tidak ada kain untuk membalut badan beliau. Beliau ialah anak yang keempat. Ibunya menyuruh ayahnya meminjam minyak dari jiran. tetapi bapa beliau telah membuat keputusan tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali kepada Allah. Bapa itu pun pergilah berpura-pura ke rumah jiran dan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu agar tidak didengar oleh orang dalam rumah itu. Kemudian dia pun pulang dengan tangan kosong. Katanya orang dalam rumah itu tidak mahu membuka pintu. Pada malam itu si bapa bermimpi yang ia bertemu dengan Nabi. Nabi berkata kepadanya, "Anak perempuanmu yang baru lahir itu adalah seorang yang dikasihi Allah dan akan memimpin banyak orang Islam ke jalan yang benar. Kamu hendaklah pergi berjumpa amir Basrah dan beri dia sepucuk surat yang bertulis - kamu hendaklah berselawat kepada Nabi seratus kali tiap-tiap malam dan empat ratus kali tiap-tiap malam Jumaat. Tetapi oleh kerana kamu tidak menmatuhi peraturan pada hari Khamis sudah, maka sebagai dendanya kamu hendaklah membayar kepada pembawa surat ini empat ratus dinar."

Bapa Rabi'atul-adawiyyah pun terus jaga dari tidur dan pergi berjumpa dengan amir tersebut, dengan air mata kesukaan mengalir di pipinya. Amir sungguh berasa gembira membaca surat itu dan faham bahawa beliau ada dalam perhatian Nabi. Amir pun memberi sedekah kepada fakir miskin sebanyak seribu dinar dan dengan gembira memberi bapa Rabi'atul-adawiyyah sebanyak empat ratus dinar. Amir itu meminta supaya bapa Rabi'atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu kerana beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah. Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi'atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi'atul-adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.

Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah, "Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau rida denganku. tetapi nyatakanlah keridaanMu itu padaku." Tatkala itu terdengarlah suatu suara malaikat, "Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu." Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari.

Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi'atul-adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah : "Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia."

Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik
Rabi'atul-adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi'atul-adawiyyah.

Esoknya, Rabi'atul-adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi'atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi'atul-adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi'atul-adawiyyah pun pergi.

Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi'atul-adawiyyah terus berdoa, "Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka'abah dan sekarang Engkau matikan keldaikudan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan." Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka'abah, beliau pun duduk dan berdoa, "Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka'abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan." Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam." Suatu ketika yang lain, semasa Rabi'atul-adawiyyah menuju Ka'abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka'abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata, "Apa hendakku buat dengan Ka'abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka'abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka'abah, aku mahu Allah."

Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka'abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu.

Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka'bah. Apabila sampai didapatinya Ka'abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata, "Ka'abah itu telah pergi melawat Rabi'atul -adawiyyah." Apabila Ka'bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi'atul-adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata "Rabi'atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka'abah mengambil masa empat belas tahun." Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang,tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk." Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi'atul-adawiyyah pergi ke Ka'abah. beliau berdoa, "Oh Tuhan! perlihatkanlah diriMu padaku." Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara, "Rabi'atul-adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku tidak berdaya memandang keagungan dan kebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu." Terdengar lagi suara berkata, "Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk
mencapai Aku. Rabi'atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku." Kemudian suara itu menyuruh Rabi'atul-adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi, "Rabi'atul-adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami. Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini." Mendengar itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka'abah." Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.

Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi'atul-adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi'atul-adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi'atul-adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi'atul-adawiyyah, Rabi'atul-adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, "Lapan belas." Rabi'atul-adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi. Kemudian datang semula. Rabi'atul-adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi'atul-adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : "Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan."

Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, "Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?" Rabi'atul-adawiyyah erkata, "Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah."

Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi'atul-adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, "Kenapa binatang itu lari?" Sebagai jawapan, Rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Apa kamu makan hari ini?" Hassan menjawab, "Daging." Rabi'atul- adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering."

Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya." Dengan penuh kehendak untuk mendapat publiksiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi'atul-adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia' Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana." Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia' Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?" Rabi'atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah." Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah tentang perkara kahwin. beliau menjawab, "Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku."

Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah." Beliau ditanya, "Dari mana kamu datang?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah." Rabi'atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan."

Orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah kamu lihat Tuhan yang kamu sembah itu? Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Jika aku tidak lihat Dia, aku tidak akan menyembahNya."

Rabi'atul-adawiyyah sentiasa menangis kerana Allah. Orang bertanya kepadanya sebab beliau menangis. rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku takit berpisah walau sedetik pun dengan Tuhan dan tidak boleh hidup tanpa Dia. Aku takut Tuhan akan berkata kepadaku tatkala menghembuskan nafas terakhir - jauhkan dia dariKu kerana dia tidak layak berada di majlisKu."

Allah suka dengan hambaNya yang bersyukur apabila ia berusaha sepertimana ia bersyukur tatkala menerima kurniaNya (iaitu ia menyedari yang ia tidak sanggup berusaha untuk Allah tanpa pertolongan dan kurniaan Allah).

Seorang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah Allah menerima taubat orang yang membuat dosa?"

Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Itu hanya apabila Allah mengurniakan kuasaNya kepada pembuat dosa itu yang ia digesa untuk mengakui dosanya dan ingin bertaubat. Hanya dengan itu Allah akan menerima taubatnya kerana dosa yang telah dilakukannya." Salih Al-Qazwini selalu mengajar muridnya, "Siapa yang selalu mengetuk pintu rumah seseorang akhirnya satu hari pintu itu pasti akan dibuka untuknya." Satu hari Rabi'atul-adawiyyah mendengar beliau bercakap demikian. Rabi'atul-adawiyyah pun berkata kepada Salih, "Berapa lama kamu hendak berkata demikian menggunakan perkataan untuk masa depan (Futuretense) iaitu "Akan dibuka"? Adakah pintu itu pernah ditutup? Pintu itu sentiasa terbuka." Salih mengakui kebenarannya itu.

Seorang hamba Allah berteriak, "Aduh sakitnya!" Rabi'atul-adawiyyah bertemudengan orang itu dan berkata, "Oh! bukannya sakit." Orang itu bertanya kenapa beliau berkata begitu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kerana sakit itu adalah satu nikmat bagi orang yang sangat mulia di sisi Allah. Mereka merasa seronok menanggung sakit itu."

Suatu hari rabi'atul-adawiyyah sedang melihat orang sedang berjalan dengan kepalanya berbalut. Beliau bertanya kenapa kepalanya dibalut. Orang itu menjawab mengatakan ia sakit kepala. rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Berapa umurmu?" Jawab orang itu, "Tiga puluh." Rabi'atul-adawiyyah bertanya lagi, "Hingga hari ini begaimana keadaanmu?" Kata orang itu, "Sihat-sihat shaja." Rabi'atul-adawiyyah pula berkata, "Selama tiga puluh tahun Allah menyihatkan kamu, tetapi kamu tidak mengibarkan bendera pada badanmu untuk menunjukkan kesyukuran kepada Allah, dan agar manusia bertanya kenapa kamu gembira sekali dan setelah mengetahui kurniaan Tuhan kepadamu, mereka akan memuji Allah. Sebaliknya kamu, setelah mendapat sakit sedikit, membalut kepalamu dan pergi ke sana ke mari menunjukkan sakitmu dan kekasaran Tuhan terhadapmu. Kenapa kamu berlaku sehina itu!"

Suatu hari khadamnya berkata, "Puan, keluarlah dan mari kita melihat keindahan kejadian Tuhan di musim bunga ini.' Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Duduklah dalam rumah seperti aku berseorangan dan melihat yang menjadikan. Aku lihat Dia dan bukan kejadianNya."

Suatu hari, orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah kenapa beliau tidak menyimpan pisau dalam rumahnya. Beliau menjawab, "Memotong itu adalah kerja pisau. Aku takut pisau itu akan memotong
pertalian aku dengan Allah yang ku cintai."

Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah berpuasa selama lapan hari. Pada hari terakhir, beliau merasa lapar sedikit. Datang seorang hamba Allah membawa minuman yang manis dalam sebuah cawan. Rabi'atul-adawiyyah ambil minuman itu dan meletakkannya di atas lantai di satu penjuru rumahnya itu. Beliau pun pergi hendak memasang lampu. Datang seekor kucing lalu menumpahkan minuman dalam cawan itu. Melihat itu, terfikirlah Rabi'atul-adawiyyah hendak minum air sahaja malam itu. Tatkala ia hendak mencari bekas air (tempayan), lampu pun padam. Bekas air itu jatuh dan pecah airnya bertaburan di atas lantai. Rabi'atul-adawiyyah pun mengeluh sambil berkata, "Tuhanku! Kenapa Kau lakukan begini kepadaku?"

Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, jika kamu hendakkan kurnia dunia, Aku boleh berikan padamu, tetapi akan menarik balik darimu siksaan dan kesakitan yang Aku beri padamu. Kurnia dunia dan siksaan Aku tidak boleh duduk bersama-sama dalam satu hati. Rabi'atul-adawiyyah, kamu hendak satu satu perkara dan Aku hendak satu perkara lain. Dua kehendak yang berlainan tidak boleh duduk bersama dalam satu hati."

Dengan serta-merta beliau pun membuangkan kehendak kepada keperluan hidup ini, seperti orang yang telah tidak berkehendakkan lagi perkara-perkara dunia ini semasa nyawa hendak bercerai dengan badan.


Tiap-tiap pagi beliau berdoa, "Tuhan! Penuhilah masaku dengan menyembah dan mengingatMu agar orang lain tidak mengajakku dengan kerja-kerja lain."

Rabi'atul-adawiyyah ditanya, "Kenapa kamu sentiasa menangis-nangis?"

Beliau menjawab, "Kerana ubat penyakit ini ialah berdampingan dengan Tuhan."

"Kenapa kamu memakai pakainan koyak dan kotor?" Beliau ditanya lagi, "Kamu ada kawan yang kaya, dan dia boleh memberimu pakaian baru." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku berasa malu meminta perkara dunia dari sesiapa pun yang bukan milik mereka kerana perkara-perkara itu adalah amanah Allah kepada mereka dan Allah jua yang memiliki segala- galanya."

Orang berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, Tuhan mengurniakan ilmu dan kenabian kepada lelaki, dan tidak pernah kepada perempuan, tentu kamu tidak dapat mencapai pangkat kewalian yang tinggi itu (kerana perempuan). Oleh itu apakah faedahnya usaha kamu menuju ke taraf tersebut?"

Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Apa yang kamu kata itu benar, tetapi cubalah ketakan kepadaku siapakah perempuannya yang telah mencapai taraf kehampiran dengan Allah dan lalu berkata,"Akulah yang hak".


Di samping itu tidak ada orang kasi yang perempuan. Hanya didapati dalam kaum lelaki sahaja." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Seorang perempuan yang sentiasa bersembahyang kerana Allah adalah lelaki dan bukan perempuan."

Satu hari Rabi'atul-adawiyyah jatuh sakit. Orang bertanya kepadanya sebab ia sakit. Beliau berkata, "Hatiku cenderung hendak mencapai Syurga, sayu hari yang lampau. Kerana itu, Allah jatuhkan sakitini sementara sebagai hukuman."

Hassan Al-Basri datang berjumpa Rabi'atul-adawiyyah yang sedang sakit. Di pintu rumah beliau itu, Hassan bertemu dengan Amir Al-Basri yang sedang duduk dengan sebuah bag mengandungi wang. Amir itu menangis. Apabila ditanya kenapa beliau menangis, beliau menjawab, "Aku hendak menghadiahkan wang kepada Rabi'atul-adawiyyah, tetapi aku tahu dia tidak akan menerimanya.Kerana itulah aku menangis. Bolehkah kamu menjadi pengantara dan meminta dia menerima hadiahku ini?" Hassan pun pergilah membawa wang itu kepada Rabi'atul-adawiyyah dan meminta beliau menerima wang itu. Tetapi Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Oleh kerana aku telah kenal Allah, maka aku tidak lagi mahu bersembang dengan manusia dan tidak menerima hadiah dari mereka dan juga tidak mahu memberi apa-apa kepada mereka. Di samping itu aku tidak mahu sama ada wang itu didapatinya secara halal atau haram."

Sufyan Al-Thauri berkata, "Kenapa kamu tidak memohon kepada Allah untuk menyembuhkan kamu?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kenapa aku merungut pula kerana itu hadiah Allah bagiku. Bukankah salah jika tidak mahu menerima hadiah Tuhan? Adakah bersahabat namanya jika kehendak sahabat itu tidak kita turuti?"

Malik bin Dinar pergi mengunjungi Rabi'atul-adawiyyah satu hari. Dilihatnya dalam rumah Rabi'atul-adawiyyah satu balang yang pecah dan mengandungi air untuk minum dan mengambil wuduk, satu bata sebagai bantal dan tikar yang buruk sebagai alas tempat tidur. Malik berkata, "Jika kamu izinkan, boleh aku suruh seorang kawanku yang kaya memberimu semua keperluan harian." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Adakah satu Tuhan yang menanggung aku, dan Tuhan lain pula menanggung kawanmu itu? Jika tidak, adakah Tuhan lupa kepadaku kerana aku miskin dan ingat kepada kawanmu itu kerana ia kaya? Sebenarnya Allah itu tidak lupa kepada siapa pun. Kita tidak perlu memberi ingat kepada Tuhan itu. Dia lebih mengetahui apa yang baik
untuk kita. Dia yang memberi kurnia dan Dia juga yang menahan kurnia itu."

Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Orang yang cinta kepada Allah itu hilang dalam melihat Allah hingga kesedaran kepada yang lain lenyap darinya dan Dia tidak boleh membezakan mana sakit dan mana senang."

Seorang Wali Allah datang dan merungut tentang dunia. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Nampaknya kamu sangat cinta kepada dunia, kerana orang yang bercakap tentang sesuatu perkara itu tentulah dia cenderung kepada perkara tersebut."

Satu hari, Sufyan Al-Thauri pergi berjumpa Rabi'atul-adawiyyah. Rabi'atul-adawiyyah menghabiskan masa malam itu dengan sembahyang. Apabila sampai pagi, beliau berkata, "Pujian bagi Allah yang telah memberkati kita dapat sembahyang sepanjang malam. Untuk tanda kesyukuran, marilah kita puasa pula sepanjang hari ini." Rabi'atul-adawiyyah selalu berdoa demikian, "Tuhanku! Apa sahaja yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan dunia, berikanlah kepada musuhku dan apa sahaja kebaikan yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan akhirat, berikanlah kepada orang-orang yang berIman, kerana aku hanya hendakkan Engkau kerana Engkau. Biarlah aku tidak dapat Syurga atau Neraka. Aku hendak pandangan Engkau padaku sahaja."

Sufyan Al-Thauri menghabiskan masa sepanjang malam bercakap-cakap tentang ibadat kepada Allah dengan Rabi'atul-adawiyyah. Di pagi hari Al-Thauri berkata, "Kita telah menghabiskan masa malam tadi dengan sebaik-baiknya." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Tidak, kita habiskan masa dengan sia-sia kerana sepanjang percakapan itu kamu berkata perkara-perkara yang memuaskan hatiku sahaja dan aku pula memikirkan perkara yang kamu sukai pula. Masa itu kita buang tanpa mengenang Allah. Adalah lebih baik jika aku duduk seorang diri dan menghabiskan masa malam itu dengan mengenang Allah." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Doaku padaMu ialah sepanjang hayatku berilah aku dapat mengingatMu dan apabila mati kelak berilah aku dapat memandangMu."

Lahirnya pd kurun ke2 hijrah
Dipinggiran terpencil Kota Basrah
Sejarah telah menukirkan langkahnya
Menuju Allah bermula dgn payah
Kemiskinan keluarganya terlalu mencengkam
Menjadikn dia hampir tenggelam
Dialah gadis yg bernama Rabiatul Adawiyah
Takdir mengatasi takdir
Ketika tiba-tiba pintu hidayah terbuka dia menjadi tersentak

Kembara cintanya pun bermula
Dari gelap dia menuju cahaya
Bukan kerana pahala tetapi kerana cinta
di kedinginan malam dia berkata
Tuhanku bintang-bintang telah menjelma indah
Mata manusia terlena sudah
Ketika semua pintu telah tertutup
Tatkala unggas malam sahut menyahut
Dan inilah aku..inilah aku
Duduk dihadapanMu mengadu cintaku
Yang selalu terganggu
Mengintai kasihMu diperdu rindu

Demikian rintihan hati Rabiatul Adawiyah
Lalu ditemuinya keindahan & ketenangan
Di hamparan kasih sayang Tuhan


Ya Allah...Ini air mataku yang tumpah kerana menyesali dosa
Ini sujudku yang menginsafi rasa kehambaan diri
Ini tanganku yang memohon keampunan dan rahmat-Mu

Ini wajahku yang menghadap -Mu dengan rasa kehinaan
air mataku, sujudku , tanganku dan wajahku
ini sebagai saksi diakhirat........Bahawa aku pernah
merintih keampunan daripada-Mu
Jadikanlah air mataku , sujudku ,tanganku , dan
wajahku ini sebagai pemayung ketika panas terik
di Padang Mahsyar...Sesungguhnya tidak tertanggung olehku
akannya.Jadikanlah air mataku , sujudku , tanganku ,
dan wajahku ini sebagai
pemberat ketika amalanku ditimbang. Sesungguhnya
terlalu gentar hati ini apabila
air mataku sujudku , tanganku , dan wajahku
ini sebagai
penyelamat ketika dihumban ke dalam neraka-Mu......
Sesungguhnya tiada amalanku yang layak untuk
menyelamatkan diri.

Tuhan.........Tiada amalanku yang dapat dipersembahkan sempurna
kepada-mu...kerana kebaikanku telah ditembusi
kejahatanku.Melainkan hanya ini yang yang
harapan......air mata penyesalan ,sujud seorang hamba,
tangan yang sentiasa mengharap rahmat-Mu dan wajahyang malu memandang-Mu.

Meskipun rayuan setinggi gunung,namun......kesangsian
datang di celah harapan.
Apakah air mata yang mengalir seikhlas air mata
penyesalan Nabi Adam
selamai 200 tahun
hingga bumi terbelah menjadi sungai ?
Apakah sujudku ini sehebat Uwais Al Qarni yang
merintih hingga dini hari ?
Apakah tanganku ini menadah serta bermohon
tangan Siti Mariam yang merayu ke hadrat Illahi ?Apakah wajahku yang
mengadap-Mu ini seperti RabiatulAdawiyah
yang mengadap-Mu dengan rasa kehinaan ?Semua kesangsian ini

Ya Allah
mendatangkan kegentaran
di dada untuk mengadap-Mu....Tetapi .....hanya ini yang ada padaku..

Nama ini sinonim dalam sejarah dunia . Rabi'ah binti Ismail
al-Adawiyah terkenal dalam sejarah Islam.
Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah
di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi
kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula
hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan
menggunakan sampan.

Aku tertarik dan ingin berkongsi rintihan Rabi'ah sewaktu kesunyian di
ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:

"Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada
segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada
segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!

"Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur
nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di
hadapan-Mu.

"Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran
pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan
burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada
tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan
melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan
menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.

"Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik
maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi'ah yang banyak kesalahan di
hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya
yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat
kepada-Mu."

Dan ini raungan Rabiah memohon belas ihsan Allah SWT:

"Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian
kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang
mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan.
Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang
terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang
berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab
Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa."

Setiap malam begitulah keadaan Rabi'ah. Apabila fajar menyinsing,
Rabi'ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:

"Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti.
Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya
aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan
takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau
menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika
Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak
bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu."

Seperkara menarik tentang diri Rabi'ah ialah dia menolak lamaran untuk
berkahwin dengan alasan:

"Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan.
Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik
Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun."

Rabi'ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu
dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai
tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi'ah telah
mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada
akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di
hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.

Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:

"Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada
suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu."

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:

"Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain
Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada
penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah
ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun."

Rabi'ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai
Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk
membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman dengan
menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah
diluahkannya:

"Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang
mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut
kepada-Mu?"

Kecintaan Rabi'ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk
beroleh syurga Allah semata-mata.

"Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka
bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak
kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku
menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan
yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha
Mulia itu."

Begitulah keadaan kehidupan Rabi'ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji
dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi'ah meninggal dunia
pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga
Allah meredainya, amin! – Haluan

Bersama ahli cerdik pandai

Rabi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam.
Beliau terkenal dengan sifat wara' dan sentiasa menjadi rujukan
golongan cerdik pandai kerana beliau tidak pernah kehabisan hujjah.

Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke
rumah Rabi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan
adalah untuk menguji beliau dengan pelbagai persoalan. Malah mereka
telah bersedia dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh
keyakinan yang tinggi, kerana selama ini Rabi'atul Adawiyah tidak
pernah ketandusan hujah.

"Wahai Rabi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi
telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum lelaki, namun tidak kepada
kaum wanita." Ketua rombongan itu memulakan bicara.

"Buktinya?" Balas Rabi'atul Adawiyah.

"Buktinya ialah, mahkota kenabian dan Rasul telah dianugerahkan kepada
kaum lelaki. Malah mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum
lelaki. Paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah
diangkat menjadi Nabi atau Rasul, malah semuanya dari golongan
lelaki." Jawab mereka pula dengan yakin.

"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat
bahawa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga. Siapa yang
mengagung-agungkan diri sendiri? Siapa yang begitu berani mendakwa
dirinya sebagai Tuhan? Dan siapa pula yang berkata : "Bukankah aku ni
tuhanmu yang mulia?" Dengan tenang, Rabi'atul Adawiyah membalas hujah
mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud.

Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi, "Anggapan dan ucapan
seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah
semuanya ditimpakan kepada kaum lelaki."

Dengan seorang pencuri

Suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang khusyuk tidur,
seorang pencuri telah menceroboh masuk ke dalam pondok Rabi'atul
Adawiyah.

Namun setelah menyelongkar sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui
sebarang benda berharga kecuali sebuah kendi untuk kegunaan berwuduk,
itupun telah buruk. Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari
pondok tersebut.

Tiba-tiba Rabi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut, "Hei, jangan
keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini." Si pencuri
tersebut terperanjat kerana dia menyangka tiada penghuni di pondok
tersebut. Dia juga berasa hairan kerana baru kini dia menemui tuan
rumah yang begitu baik hati seperti Rabi'tul Adawiyah. Kebiasaannya
tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri
memasuki rumahnya, namun lain pula yang berlaku.

"Sila ambil sesuatu." kata Rabiatul Adawiyah lagi kepada pencuri tersebut.

"Tiada apa-apa yang boleh aku ambil daripada rumah mu ini." kata si
pencuri berterus-terang.

"Ambillah itu!" kata Rabi'atul Adawiyah sambil menunjuk pada kendi
yang buruk tadi.

"Ini hanyalah sebuah kendi buruk yang tidak berharga." Jawab si pencuri.

"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu'
menggunakan kendi itu. Selepas itu solatlah 2 rakaat. Dengan demikian,
engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok
burukku ini." Balas Rabi'tul Adawiyah.

Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang
selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata
Rabi'tul Adawiyah itu. Lantas si pencuri mencapai kendi buruk itu dan
dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya.. Kemudian dia
menunaikan solat 2 rakaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan
kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.

Rabi'atul Adawiyah lantas berdoa, "Ya Allah, pencuri ini telah
menceroboh masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebarang
benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri
dihadapan-Mu. Oleh itu janganlah Engkau halang dia daripada
memperolehi nikmat dan rahmat-Mu."

Dengan seorang pemuda

Suatu hari, Rabi'atul Adawiyah terlihat seseorang sedang
berjalan-jalan dengan kepalanya berbalut sambil menagih simpati
daripada orang ramai. Kerana ingin tahu sebabnya orang itu berbuat
demikian, Rabi'atul Adawiyah bertanya, "Wahai hamba Allah! Mengapa
engkau membalut kepalamu sebegini rupa?"

"Kepalaku sakit." Jawab orang itu dengan ringkas.

"Sudah berapa lama?" Tanya Rabi'atul Adawiyah lagi.

"Sudah sekian hari." Jawabnya dengan tenang.

Lantas Rabi'atul Adawiyah bertanya lagi,"Berapa usiamu sekarang?"

Orang itu menjawab,"Sudah 30 tahun"

"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?" Tanya beliau lagi.

"Alhamdulillah, sihat-sihat saja." Jawabnya.

"Apakah kamu memasang sebarang tanda di badanmu bahawa kamu sihat
selama ini?" Tanya Rabi'atul Adawiyah.

"Tidak." Jawab orang itu ragu-ragu.

"Masya Allah, selama 30 tahun Allah telah menyihatkan tubuh badanmu,
tetapi kamu langsung tidak memasang sebarang tanda bagi menunjukkan
kamu sihat sebagai tanda bersyukur kepada Allah. Jika sebaliknya,
pasti manusia akan bertanya kepada kamu sebabnya kamu sangat gembira.
Apabila mereka mengetahui nikmat Allah kepadamu, diharapkan mereka
akan bersyukur dan memuji Allah." Jelas Rabi'atul Adawiyah.

"Akan tetapi, kini apabila kamu mendapat sakit sedikit, kamu balut
kepalamu dan kemudian pergi ke sana sini bagi menunjukkan sakitmu dan
kekasaran Allah terhadapmu kepada orang ramai, Mengapa kamu berbuat
hina seperti itu?" Sambung Rabi'atul Adawiyah lagi.

Orang yang berbalut kepalanya itu hanya diam seribu bahasa dan
tertunduk malu denga perlakuannya. Kemudian dia beredar meninggalkan
Rabi'atul Adawiyah dengan perasaan kesal dan insaf.

Kata kata mutiara rabiatul adawiyah

" Biar waktu yang akan membuktikan .......

bahwa tiap langkah yang telah dipijakkan,

tiap tetesan darah dan keringat yang telah dialirkan,

tiap jiwa yang telah melayang,

akan samapai pada satu keadaan .......

dimana keadilan adalah nadinya,

kesejahteraan adalah nafasnya,

kebijaksanaan adalah sifatnya,

dan Ridho Sang Khalik adalah tujuannya. "

" Tuhanku, apa-apa saja yang hendak kau berikan kepadaku di dunia ini

maka berikanlah kepada musuh-musuh MU.

Serta apa-apa saja yang hendak kau berikan kepada ku di akhirat kelak,

maka berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu.

Sebab engkau saja cukuplah bagiku "

(Rhobiyatul Al-Adawiyah)

Informasi Mengenai Peristiwa Masa Depan dalam Al Qur'an

Sisi keajaiban lain dari Al Qur'an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala:

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al Qur'an, 48:27)

Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah. Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah.

Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur'an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas. Kekalahan Bizantium merupakan salah satu berita tentang peristiwa masa depan, yang juga disertai informasi lain yang tak mungkin dapat diketahui oleh masyarakat di zaman itu. Yang paling menarik tentang peristiwa bersejarah ini, yang akan diulas lebih dalam dalam halaman-halaman berikutnya, adalah bahwa pasukan Romawi dikalahkan di wilayah terendah di muka bumi. Ini menarik sebab "titik terendah" disebut secara khusus dalam ayat yang memuat kisah ini. Dengan teknologi yang ada pada masa itu, sungguh mustahil untuk dapat melakukan pengukuran serta penentuan titik terendah pada permukaan bumi. Ini adalah berita dari Allah yang diturunkan untuk umat manusia, Dialah Yang Maha Mengetahui.

Tuesday, April 29, 2008

Rasulullah S.A.W: Bila Kenal Bertambah Kasih

Semua umat Islam mengetahui bahawa Rasulullah saw merupakan insan yang mulia dan dimuliakan oleh Allah swt. Dalam al-Quran, terdapat banyak ayat yang menceritakan tentang Rasulullah saw, seperti dalam ayat 128 Surah al-Taubah, ayat 164 surah Ali 'Imran, Surah al-Jumu'ah ayat 2, Surah al-Baqarah ayat 151, Surah al-Nisa' ayat 80, Surah al-Anbiya' ayat 107 dan banyak lagi.

Apabila al-Quran banyak menyentuh tentang Rasulullah, ini menggambarkan betapa hebatnya insan yang mulia ini. Namun, berapa ramaikah umat Islam dalam masyarakat kita yang benar-benar mengenali Rasulullah? Saban tahun majlis sambutan maulidurrasul biasanya akan disambut dengan begitu meriah dengan selawat ke atas nabi secara beramai-ramai, majlis berzanji, mengadakan jamuan makan dan sebagainya. Namun, secara sedar atau pun tidak, di sebalik kehangatan sambutan tersebut, berapa ramaikah yang benar-benar mengenali Rasulullah? Berapa ramaikah juga yang memahami isi kandungan berzanji yang dialunkan dengan begitu merdu yang menceritakan tentang kehidupan nabi itu? Sedangkan umat Islam mengetahui bahawa dengan kelahiran Rasulullah ke atas dunia ini, ia membawa sejuta rahmat kepada umat manusia keseluruhannya. Allah s.w.t sendiri telah menyatakan dalam al-Quran Surah al-Anbiya’ ayat 107 yang bermaksud: ‘Tidak Kami utuskan engkau (Muhammad) melainkan untuk memberi rahmat kepada sekalian alam’.

Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahawa Rasulullah s.a.w. telah diutus untuk memimpin ummah. Baginda merupakan contoh terbaik yang bersifat universal iaitu keseluruhan hidup Junjungan dapat dijadikan ikutan dan contoh di sepanjang zaman. Dalam hal ini, Allah s.w.t telah menyatakan dalam al-Quran, Surah al-Ahzab ayat 21 yang bermaksud : ‘Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu menjadi contoh yang paling baik untuk (menjadi ikutan) kamu’. Rasulullah s.a.w. adalah merupakan pemimpin ummah yang boleh diikuti dan dicontohi dalam segenap kehidupan; peribadi yang luhur dan murni, seorang manusia yang sentiasa menyeru kepada jalan Allah dengan penuh hikmah, seorang ketua negara yang mendayung bahtera pemerintahan dengan amanah dan cekap, seorang suami mithali, seorang bapa yang bijak menyempurnakan tanggungjawab terhadap anak, seorang sahabat yang setia, seorang jiran yang memahami jirannya, dan lain-lain lagi. Jelasnya, kepemimpinan Rasulullah terserlah dalam seluruh kehidupan baginda.

Di samping memiliki akhlak dan keperibadian yang tinggi, Rasulullah saw juga merupakan seorang insan yang mempunyai perawakan yang menarik dan cantik. Walaupun rupa paras bukanlah menjadi suatu tuntutan untuk diikuti dan diteladani kerana ia merupakan anugerah Allah swt secara khusus kepada setiap makhlukNya, namun apabila dapat mengenali perawakan seseorang, maka akan bertambah rasa kasih dan dekat padanya. Justeru, pepatah Melayu telah menyatakan 'Tak kenal, maka tak cinta'.

Mengenali perawakan Rasulullah juga akan menghindarkan diri daripada tertipu dengan mainan dan tipu daya syaitan. Pernahkah kita mendengar ada orang berkata bahawa dia bermimpi bertemu Rasulullah? Memang bermimpi bertemu dengan Rasulullah merupakan sesuatu yang istimewa. Menurut para ulama', terdapat tiga kategori bagi mimpi iaitu:

(a) Mimpi baik daripada Allah

(b) Mimpi buruk daripada syaitan

(c) Mimpi yang terjadi hasil fikiran yang menghantui diri mengenai sesuatu perkara.

Bermimpi bertemu Rasulullah termasuk dalam kategori yang pertama iaitu mimpi baik daripada Allah. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bermaksud: Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka sesungguhnya benarlah dia melihat diriku kerana syaitan tidak dapat menyerupaiku'.

Namun, sesuatu yang harus diberi perhatian ialah walaupun syaitan tidak boleh menyerupai Rasulullah, tetapi ia boleh menyerupai manusia lain seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan sebagainya, dan mendakwa sebagai Rasulullah. Justeru, untuk mengatasi masalah ditipu dan diperdaya oleh syaitan, maka umat Islam perlu mengenali perawakan dan rupa bentuk Rasulullah saw.

Imam Abu 'Isa Muhammad Ibn Isa al-Tirmidhi telah menyatakan bahawa adalah di luar kemampuan manusia untuk melukis gambaran mengenai rupa bentuk Rasulullah saw. Namun begitu, para sahabat yang amat kasih dan cinta kepada Rasulullah telah sedaya upaya menggambarkan kepada kita tentang perawakan Rasulullah saw ini. Imam al-Qurtubi menyatakan bahawa keseluruhan kekacakan Rasulullah tidaklah dizahirkan, sekiranya dizahirkan manusia tidak dapat menoleh sedikit pandangan pun ke arah baginda.

Telah dinyatakan dalam kitab al-Syifa Bita'rif Huquq al-Mustafa oleh al-Qadi 'Iyad al-Andalusi bahawa terdapat hadis-hadis dan athar-athar sahih yang banyak didatangkan oleh para sahabat tentang perawakan nabi saw. Antara sahabat yang menceritakan tentang rupa bentuk Rasulullah ialah Ali Bin Abu Talib, Anas Bin Malik, Abu Hurairah, al-Barra' Bin 'Azib, Aisyah Ummul mukminin, Ibnu Abbas, Abu Tufail dan lain-lain lagi. Antara gambaran Rasulullah yang telah dinyatakan oleh para sahabat ialah kulitnya yang putih, mata yang cantik, rambut yang lebat, wajah yang bersinar, bulu kening halus memanjang hingga ke penghujung mata, hidung yang mancung, janggut yang tebal hingga ke dada, dada yang bidang, sederhana tinggi iaitu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, apabila bercakap seolah-olah cahaya keluar dari gigi baginda dan lain-lain lagi (Sila rujuk kitab al-Syifa oleh al-Qadi 'Iyad, 1986, cetakan Dar al-Faiha', Amman, juzuk 1 halaman 147-149).

Al-Barra' Bin 'Azib berkata bahawa beliau tidak pernah melihat sesiapa yang terlebih tampan daripada Rasulullah saw. Jabir pula telah meriwayatkan bahawa pada suatu ketika semasa malam bulan purnama terang-benderang, beliau melihat kepada wajah Rasulullah dan juga melihat ke arah bulan, dan mengikut pandangannya wajah Rasulullah terlebih cantik dan berseri daripada bulan dan cahayanya.

Anas pernah berkata bahawa: 'Rasulullah saw tidaklah tersangat tinggi dan tidak juga tersangat rendah, dan warna wajah Rasulullah tidaklah terlalu putih seumpama air kapur dan tidak pula pucat pudar (warna kulit putih kemerahan), rambut Rasulullah tidaklah terlalu lurus dan tidak pula terlalu kerinting (rambut ikal mayang)….dan uban yang ada pada rambut dan janggutnya tidak melebihi dua puluh helai'.

Manakala Saidina Ali pula ketika menceritakan perawakan Rasulullah saw, beliau berkata: 'Rasulullah tidaklah tersangat tinggi dan tidak juga tersangat rendah tetapi memiliki tubuh badan sederhana, rambut baginda tidak terlampau lurus dan tidak juga terlampau berketak-ketak tetapi berkeadaan berombak (ikal). Badannya tidak gemuk. Wajahnya tidak bulat tetapi bujur. Warna wajah Rasulullah putih dengan sedikit kemerah-merahan. Matanya tersangat hitam dan bulu keningnya panjang. Tulang-tulang sendi di badannya tebal (besar)- (pergelangan tangan, siku, lutut). Bahagian di antara kedua-dua bahu dipenuhi daging-daging (berisi). Badan Rasulullah tidak berbulu di seluruh tubuh badan, walau bagaimanapun terdapat suatu garisan bulu daripada dada terus ke pusat. Tangannya yang mulia penuh dengan isi-isi daging. Apabila Rasulullah berjalan, baginda akan melangkah ke hadapan dengan kukuhnya, seoalah-olah baginda berjalan menuruni tanah curam, iaitu menuruni dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Apabila baginda menumpukan perhatian kepada seseorang, baginda melakukannya dengan seluruh jasadnya (memusingkan seluruh tubuh dan menoleh mukanya). Di antara dua bahunya terdapat tanda kenabian. Pangkat kenabian berakhir padanya. Baginda terlebih dermawan daripada segala makhluk dan paling dipercayai percakapannya dan terlebih lembut hatinya daripada semua manusia. Baginda adalah daripada golongan keluarga yang paling mulia'. (Sila rujuk kitab Insan Teladan Sepanjang Zaman oleh Mufti Ahmed Ibrahim Bemat, 1996, cetakan Dar al-Nu'man, halaman 10-11).

Kitab-kitab sirah juga menggambarkan Rasulullah sebagai insan yang paras mukanya manis dan indah, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang besar, berambut hitam antara keriting dan lurus. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam, di tepi-tepi putih matanya agak kemerah-merahan, tampak lebih menarik dan kuat, pandangan matanya tajam, dengan bulu-mata yang hitam pekat. Hidungnya halus dan merata dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Jambangnya lebar sekali, berleher panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya yang tebal. Bila berjalan badannya agak condong ke depan, melangkah cepat-cepat dan pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh fikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan, membuat orang patuh kepadanya.

Ringkasnya perawakan Rasulullah adalah seperti yang berikut:

  • Seorang yang kacak.
  • Rasulullah saw jauh lebih cantik daripada sinaran bulan, Rasulullah saw juga seumpama matahari yang bersinar.
  • Apabila Rasulullah saw berasa gembira, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama . Kali pertama memandangnya, sudah tentu akan terpesona
  • Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat. Wajahnya seperti bulan purnama
  • Dahi Baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya. Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
  • Mata Baginda hitam dengan bulu mata yang panjang. Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya.
  • Hidungnya agak mancung
  • Mulut baginda sederhana luas dan cantik
  • Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan. Apabila berkata-kata cahaya kelihatan memancar dari giginya
  • Janggutnya penuh dan tebal menawan
  • Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca. Warna lehernya putih seperti perak yang sangat indah.
  • Kepalanya besar tapi elok bentuknya
  • Rambutnya sedikit ikal. Rambutnya tebal sehingga kadang-kala menyentuh pangkal telinga dan kadang-kala mencecah bahu, namun ia disisir rapi. Rambutnya juga terbelah di tengah
  • Di tubuhnya tidak banyak bulu kecuali satu garisan bulu menganjur dari dada ke pusat
  • Dadanya bidang dan selaras dengan perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih daripada biasa. Kedudukan kedua-dua bahunya adalah seimbang.
  • Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya , jarinya juga besar dan tersusun dengan cantik. Tapak tangan Rasulullah saw amat lembut
  • Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.
  • Kakinya berisi, di tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air. Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
  • Warna kulitnya tidak putih seperti kapur atau coklat tapi campuran antara coklat dan putih. Warna putihnya lebih banyak. Warna kulit Baginda putih kemerah-merahan.
  • Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh
  • Badannya tidak gemuk. Perutnya tidak buncit
  • Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak. Namun begitu, badannya cenderung kepada tinggi. Semasa berada di kalangan orang ramai, baginda kelihatan lebih tinggi daripada mereka
  • Sekalipun baginda miskin dan lapar tapi tubuhnya lebih gagah dan sihat daripada orang yang cukup makan.

Thursday, April 24, 2008

Aib Kematian Dan Penggali Kubur

Bersama Pemuda & Ayahnya yang Berubah Menjadi Himar

Dalam terik panas mentari yang memancar menyinari tanah Baitul Haram, seorang ulama zuhud yang bernama Muhammad Abdullah al-Mubarak keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji. Di sana dia leka melihat seorang pemuda yang asyik membaca selawat dalam keadaan ihram. Malah di Padang Arafah dan di Mina pemuda tersebut hanya membasahkan lidahnya dengan selawat ke atas Nabi.

“Hai saudara,” tegur Abdullah kepada pemuda tersebut. “Setiap tempat ada bacaannya tersendiri. Kenapa saudara tidak membanyakkan doa dan solat sedangkan itu yang lebih dituntut? Saya lihat saudara asyik membaca selawat saja.”

Wajah mayat bertukar jadi himar


“Saya ada alasan tersendiri,” jawab pemuda itu. “Saya meninggalkan Khurasan, tanahair saya untuk menunaikan haji bersama ayah saya. Apabila kami sampai di Kufah, tiba-tiba ayah saya sakit kuat. Dia telah menghembuskan nafas terakhir di hadapan saya sendiri. Dengan kain sarung yang ada, saya tutup mukanya. Malangnya, apabila saya membuka semula kain tersebut, rupa ayah saya telah bertukar menjadi himar. Saya malu. Bagaimana saya mahu memberitahu orang ramai tentang kematian ayah saya sedangkan wajahnya begitu hodoh sekali?

“Saya terduduk di sisi mayat ayah saya dalam keadaan kebingungan. Akhirnya saya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu saya melihat seorang pemuda yang tampan dan baik akhlaknya. Pemuda itu memakai tutup muka. Dia lantas membuka penutup mukanya apabila melihat saya dan berkata, “Mengapa kamu susah hati dengan apa yang telah berlaku?”

“Maka saya menjawab, “Bagaimana saya tidak susah hati sedangkan dialah orang yang paling saya sayangi?”

“Pemuda itu pun mendekati ayah saya dan mengusap wajahnya sehingga ayah saya berubah wajahnya menjadi seperti sediakala. Saya segera mendekati ayah dan melihat ada cahaya dari wajahnya seperti bulan yang baru terbit pada malam bulan purnama.

“Engkau siapa?” tanya saya kepada pemuda yang baik hati itu.

“Saya yang terpilih (Muhammad).”

“Saya lantas memegang jarinya dan berkata, “Wahai tuan, beritahulah saya, mengapa peristiwa ini boleh berlaku?”

Rahsia selawat 100 kali

“Sebenarnya ayahmu seorang pemakan harta riba. Allah telah menetapkan agar orang yang memakan harta riba akan ditukar wajahnya menjadi himar di dunia dan di akhirat. Allah telah menjatuhkan hukuman itu di dunia dan tidak di akhirat.

“Semasa hayatnya juga ayahmu seorang yang istiqamah mengamalkan selawat sebanyak seratus kali sebelum tidur. Maka ketika semua amalan umatku ditontonkan, malaikat telah memberi tahu keadaan ayahmu kepadaku. Aku telah memohon kepada Allah agar Dia mengizinkan aku memberi syafaat kepada ayahmu. Dan inilah aku datang untuk memulihkan semula keadaan ayahmu.”

Bersama Seorang Pemuda Penggali Kubur

Diriwayatkan dari Ibnu Hubaiq: Riwayat dari ayahku yang berkata, Yusuf bin Asbath pernah bertemankan seorang pemuda dari Teluk, yang tidak pernah berbincang-bincang dengannya (Yusuf) selama sepuluh tahun. Akan tetapi, Yusuf mengetahui kerisauan dan kecemasan hati pemuda itu dan juga ketekunannya melakukan ibadat pada siang mahupun malam hari. Kepada pemuda itu Yusuf pernah berkata, “Apa sebenarnya pekerjaanmu dahulu, sehingga aku lihat dirimu selalu tertunduk menangis?”

“Dahulu aku adalah seorang penggali kubur,” jawabnya.

“Apa yang pernah kamu lihat saat berada di liang lahat?” tanya Yusuf meminta penjelasan.

“Aku melihat rata-rata muka mereka dipalingkan dari arah kiblat, kecuali beberapa orang saja,” kata pemuda itu.

“Kecuali beberapa orang saja?” tanya Yusuf dengan penuh hairan.

Sakit gara-gara cerita penggali kubur

Setelah berkata demikian, Yusuf pun gelisah dan fikirannya tidak tenteram. Oleh itu dia memerlukan ubat untuk menyembuhkan kegelisahannya.

Ibnu Hubaiq meneruskan ceritanya, “Ayahku berkata: Kami lalu memanggil doktor Sulaiman untuk mengubati Yusuf. Setelah mendapatkan perawatan yang teratur, Yusuf pun sihat kembali seperti sediakala dan dia pun berkata, “Kecuali hanya sedikit saja!” Yusuf terus-menerus mengucapkan demikian, dan lantaran itu dia mendapatkan perawatan terus agar fikirannya normal kembali.

Ketika doktor Sulaiman selesai mengubati dan hendak pulang, Yusuf berkata kepada orang-orang yang menungguinya, “Apa yang mesti kalian berikan kepada doktor itu?”

“Dia tidak mengharapkan apa-apa darimu,” jawab kami semua.

“Subhanallah! Kalian telah berani mendatangkan doktor kerajaan, akan tetapi, aku tidak memberikan sesuatu pun kepadanya,” kata Yusuf. “Berikan kepadanya wang beberapa dinar!” kata kami kepada Yusuf.

“Ambillah ini dan berikan kepadanya serta tolong beritahukan kepadanya bahawa aku tidak memiliki sesuatu pun, kecuali sekadar ini, agar dia tidak berprasangka bahawa aku ini mempunyai harga diri yang lebih rendah daripada para raja,” kata Yusuf.

Tanah yang akan kita masuki

Yusuf kemudian menyerahkan sebuah beg mengandungi wang sebanyak lima belas dinar dan diberikannya kepadaku. Selanjutnya kuserahkan wang tersebut kepada doktor Sulaiman atas pertolongannya kepada Yusuf.
Sejak peristiwa itu Yusuf akhirnya tekun menganyam tikar dari daun kurma hingga akhir hayatnya.

Dan diriwayatkan dari Hubaiq yang mengatakan: Yusuf bin Asbath pernah berkata, “Dari ayahku, aku mendapatkan harta waris berupa tanah seharga lima ratus dinar yang terletak di daerah Kufah. Akan tetapi, pada akhirnya terjadilah perselisihan di antara saudara-saudaraku, kerana itu aku meminta pendapat kepada Hasan bin Shaleh. Hasan bin Shaleh lalu berkata kepadaku, “Aku tidak ingin kamu terlibat pertentangan dengan mereka, hanya disebabkan masalah tanah yang akan kita masuki kelak.”

Demikianlah atas saranan Hasan bin Shaleh itu, maka kurelakan tanah itu kepada mereka secara ikhlas kerana Allah SWT semata sebab aku menyedari bahawa diriku adalah bahagian daripada tanah.

Gara-Gara Seekor Ular

Disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Ali At-Tanukhi, dia mengatakan: Dahulu kala hiduplah seorang lelaki yang terkenal zuhud dan kuat ibadatnya, dialah Labib Al-Abid. Dia datang ke pintu gerbang negeri Syam dari arah barat kota Baghdad, sebuah tempat yang menjadi laluan orang ramai.

Labib kemudian berkata kepadaku: Dahulu aku adalah seorang hamba Rom, milik salah seorang tentera. Dialah yang merawat dan mengajarku cara bermain pedang sehingga aku pun mahir memainkannya sehingga merasa benar-benar perkasa.

Demi menjalin persaudaraan dan untuk mengawal hartanya, walaupun aku telah dimerdekakan sepeninggalnya, aku kemudian menikahi isterinya. Aku yakin, Allah SWT. telah mengetahui bahawa apa yang kuperbuat itu tiada lain sekadar untuk menjaganya. Aku tinggal bersamanya beberapa tahun.

Selama hidup berumahtangga dengannya, suatu hari kulihat seekor ular menyelinap dalam bilik kami. Aku lalu memegang ekornya untuk kubunuh, tetapi ular itu justeru berbalik menyerangku dan berjaya menggigit tanganku hingga menjadi lumpuh. Setelah tanganku yang satu mengalami kelumpuhan, selang beberapa waktu kemudian tanganku yang lain menyusul lumpuh pula tanpa sebab- sebab yang jelas. Seterusnya kedua kakiku juga lumpuh, mataku menjadi buta dan terakhir aku menjadi bisu. Kemalangan ini kualami selama satu tahun.

Demikianlah keadaanku yang sangat buruk, kecuali hanya telingaku yang masih mampu menangkap segala pembicaraan. Aku tergeletak tiada berdaya: Aku selalu diberi minum saat aku merasa tidak dahaga, sementara itu dibiarkan kehausan saat aku kenyang, dan dibiarkan ketika aku merasa lapar.

Setelah berjalan satu tahun, datanglah seorang wanita menjumpai isteriku. Dia bertanya kepada isteriku, “Bagaimana keadaan Abu Ali Labib?”

“Dia tidak hidup dan tidak juga mati, sehingga hal ini membuatku bimbang dan hatiku menjadi sangat sedih,” jawab isteriku.

Mendengar hal itu, dalam hatiku lalu mengadu kepada Allah dan berdoa. Dalam keadaan menderita sakit yang seperti ini sedikit pun dalam jiwaku tidak merasakan sesuatu.

Pada suatu hari, aku merasa seakan-akan menerima pukulan sangat keras yang hampir membuatku binasa. Hal itu terus berlangsung hingga tengah malam atau mungkin sudah lewat tengah malam, kemudian sedikit demi sedikit rasa sakitku ini mula hilang, akhirnya aku dapat tidur.

Keesokan hari ketika terjaga dari tidur, kurasakan tangan ini telah berada di atas dada, padahal selama ini tergeletak tidak berdaya di atas tempat tidur kerana mengalami kelumpuhan. Kucuba untuk bergerak dan ternyata berjaya. Melihat hal ini, aku merasa gembira dan yakin bahawa Allah akan memberikan kesembuhan. Kucuba menggerakkan tanganku yang lain dan ternyata dapat kugerakkan pula.

Aku juga mencuba memegang salah satu kakiku dan berjaya memegangnya, dan kukembalikan tanganku pada keadaan semula, hal ini kulakukan pula pada tanganku yang lain. Selepas itu aku ingin mencuba membalikkan tubuhku dan ternyata dapat kubalikkan dan bahkan aku mampu duduk lagi. Kemudian, aku bermaksud untuk berdiri dan ternyata aku juga mampu melakukannya, lalu kucuba lagi turun dari pembaringan, yang selama ini tubuhku terbaring. Tempat tidurku itu berada di sebuah bilik yang ada di rumahku.

Dalam kegelapan aku mencuba untuk mencari pintu bilik dengan meraba-raba dinding bilik, sebab mataku belum dapat melihat dengan terang. Akhirnya aku berjaya mencapai teras rumah dan di sana aku dapat memandang langit dan bintang-gemintang yang berkedip. Kerana luapan kegembiraan yang tiada terkira hampir menghentikan detak jantungku, dan segera terlontar dari bibirku rasa syukur kepada-Nya:
“Wahai Zat Yang Maha Kaya Kebaikan-Nya! Hanya Milik-Mulah segala puji.”

Setelah itu aku pun berteriak memanggil isteriku dan dia segera datang menemuiku seraya berkata, “Abu Ali?”

“Sekarang inilah aku menjadi Abu Ali yang sebenarnya. Dan kini nyalakanlah lampu,” kataku kepadanya.

Isteriku segera pula menyalakan lampu, dan kemudian kuperintahkan kepadanya untuk mengambilkan sebuah gunting.

Dia pun datang dengan membawa gunting yang kumaksud, dengan gunting itulah kupotong kumisku. Isteriku lalu berkata kepadaku, “Apa yang hendak kamu lakukan? Bukankah teman-temanmu telah mencelamu?”

“Selepas ini, aku tidak akan melayani seorang pun kecuali hanya Tuhanku semata-mata,” jawabku.

Seterusnya kugunakan seluruh waktuku untuk menghadap kepada Allah SWT. dan tekun beribadat. Al-Qadhi Abu Ali meneruskan ceritanya kembali, bahawa Abu Ali Labib Al Abib adalah seorang yang mustajab doanya.

Wednesday, April 23, 2008

Kekasih Putera Kekasih

Umurnya mencapai 20 tahun ketika Rasulullah SAW memilihnya untuk menjadi komander pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Ansar. Siapa gerangan pemuda yang memperoleh kepercayaan dari Nabi SAW sehingga baginda menempatkannya pada jabatan yang besar, menyandarkan kepadanya tugas besar dan memuliakannya ini?
Ayah pemuda itu tak lain adalah Zaid Ibn Haritsah, salah seorang sahabat Nabi, yang juga salah satu kecintaan baginda SAW. Rasulullah SAW mendidik Usamah sejak kecil, dan mencintainya sebagaimana ia mencintai dan mengasihi Hasan, Husein dan Fatimah Az-Zahra.

Baginda memberi gelaran kepadanya sebagai “Kekasih putera kekasih.”

Gelaran itu mencerminkan penghargaan Nabi kepadanya, bahkan merupakan pelimpahan emosi kenabian yang diletakkan kepada emosi manusiawi, sehingga mampu mengangkat darjat Usamah dan ayahnya ke peringkat orang-orang yang dikasihi dan dicintai oleh Rasulullah SAW

Sebenarnya Usamah patut sekali memperoleh julukan tersebut. Sejak, dari masa kanak-kanaknya ia telah mereguk cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan cinta kepada Islam. Ia amat dekat dengan Nabi seperti halnya Hasan dan Husein. Ia makan bersama Nabi dan menyaksikan pergaulannya yang baik bersama keluarga dan pembantunya. Ia menyaksikan akhlak Nabi dan perilakunya yang baik serta mulia dan teladan yang tinggi.

Pada masa muda belia, ia berangan-angan untuk menyandang senjata dan berjuang bersama orang-orang yang berjihad sebagaimana halnya beliau menolak anak-anak yang sebaya dengannya untuk terjun ke medan perang melawan orang-orang musyrikin.

Ketika Usamah mencapai usia dewasa, mampu menyandang senjata, Rasulullah SAW membolehkan ia bergabung dengan barisan para pejuang. Dengan demikian ia berusaha membuktikan angan-angannya yang diinginkan sejak kecilnya. Hal ini sebagai ujian berat baginya untuk mempersiapkan dirinya untuk memperoleh darjat yang tinggi.

Hal itu terjadi tidak berapa lama setelah penaklukan Makkah. Kaum musyrikin masih menghendaki kemenangan atas Nabi dan kaum muslimin. Nabi mengetahui hal yang penyebab perkara ini. Baginda mengumpulkan ribuan pejuang dan pasukan panah di Hunain, sehingga memenuhi lembah dan perbukitan Hunain.

Kaum muslimin tidak menyangka akan kalah, sebab jumlah dan perlengkapannya amat besar. Tapi Allah menghendaki agar mereka tahu tentang hakikat agama dan mutiara akidahnya sehingga mereka tahu bahawa hanya Allahlah yang berhak menentukan kemenangan. Menjelang fajar kaum muslimin masuk ke daerah Hunain, dan kaum musyrikin menyerang secara mendadak dengan panah dan tombak sehingga menjadikan kaum muslimin terdesak mundur kerana terkejut.

Sedangkan Nabi masih diam di tempat seraya berseru: “Hai orang-orang, mahu kemana? Sungguh saya adalah Nabi, cucu Abd Al-Muthalib.” Beberapa orang di sekitarnya masih tetap bertahan. Di antara mereka ada Usamah Ibn Zaid. Orang-orang tersebut tetap teguh di sekitar Nabi sehingga pengaruh serangan mendadak tadi hilang dalam jiwa kaum muslimin. Mereka kembali ke medan perang melawan kaum musyrikin sehingga sebahagian terbunuh dan sebahagian tertawan.

Pertempuran Hunain ini meninggalkan kesan yang menarik bagi diri Rasulullah SAW. Orang-orang yang berdiri di sekitarnya pada saat-saat sulit merupakan orang-orang yang teguh iman dan keberaniannya. Tidak hairan apabila Nabi SAW memilih Usamah sebagai komandan pasukan yang dipersiapkannya untuk menghadapi tentera Rom. Hal itu terjadi setelah diketahui pengorbanan, keteguhan perjuangan dan tekadnya yang mantap.

Terpilihnya Usamah sebagai komandan pasukan ternyata tidak mamuaskan sebahagian kaum Muhajirin dan Ansar. Mereka saling berkata: “Mengapa Nabi SAW memilih pemuda ini, bukankah kita memiliki tokoh-tokoh tua yang berpengetahuan dan berpengalaman dalam masalah perang?”

Lalu perbincangan tersebut sampai kepengetahuan Nabi. Saat itu baginda sedang sakit. Baginda mengambil air untuk mendinginkan badannya lalu keluar seraya berucap di hadapan mereka: “Sebahagian orang meremehkan kepemimpinan Usamah Ibn Zaid. Sebelumnya mereka juga telah meremehkan kepemimpinan ayahnya, meskipun ayahnya waktu itu layak memegang tampuk pimpinan.

Demikian pula dengan Usamah. Usamah termasuk orang yang aku cintai setelah ayahnya. Aku mengharapkan agar ia menjadi orang yang baik di antara kamu. Kerananya berbuat baiklah kepadanya.”
Lalu Nabi berpesan kepada para sahabat agar mereka mem-berangkatkan pasukan Usamah. Namun tentera muslimin masih tertunda beberapa hari di Al-Jarf (suatu tempat di dekat Madinah). Sementara itu penyakit yang dideritai Rasulullah kian berat. Tidak berapa lama setelah itu baginda wafat.

Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah, langkah pertama yang langsung ia kerjakan adalah mengangkat Usamah sebagai pasukan kaum muslimin. Segera saja pasukan tersebut menuju ke perbatasan Syam. Di perbatasan itu kaum muslimin menaklukkan salah satu perkampungan Rom. Hal ini menimbulkan ketakutan bagi penduduk Rom lainnya. Kemudian pasukan yang dipimpin oleh Usamah kembali tanpa kehilangan seorang tentera pun. Seluruh penduduk Madinah menyambutnya dengan meriah.

Setelah itu Usamah hidup tekun beribadah, puasa di siang hari dan solat sunah di malam hari sampai menjelang wafatnya pada tahun 54 H. Ia meninggal sebagai orang yang suci dan soleh.

Tuesday, April 22, 2008

Kisah Raja Iblis Berdialog Dgn Rasulullah

Allah SWT telah menitahkan Malaikat untuk berjumpa raja iblis dan menyuruh raja iblis mengadap kehadhirat Baginda Junjungan Besar Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W. bagi membuka segala jenis rahsia kegemaran dan kebencian raja iblis. Peristiwa ini juga membayangkan ketinggian darjat Baginda Rasulullah S.A.W. serta menjadi perisai dan peringatan kepada sekelian umat Baginda. Malaikat menyatakan Titah Allah SWT kepada raja iblis :

Hai iblis!! Bahawa Allah SWT Yang Maha Mulia lagi Maha Besar telah menitahkan engkau supaya mengadap kehadhirat Rasulullah S.A.W. dan hendaklah engkau membuka segala rahsiamu dan apa-apa yang disoal oleh Nabi Muhammad S.A.W. hendaklah engkau menjawab dengan benar dan sekiranya engkau berdusta walau satu perkataan sekalipun nescaya diputuskan segala anggotamu dan uratmu serta engkau akan disiksa dengan azab yang amat keras

Mendengar sahaja perkataan Malaikat berkenaan, iblis terasa dahsyat dan amat gerun sekali. Dengan segera iblis datang mengadap Baginda Rasulullah S.A.W. dengan menyamar menjadi seorang tua yang buta sebelah matanya serta berjanggut putih sebanyak 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu. iblis memberikan salam dengan penuh hormat dan takzim sebanyak 3 kali yang tiada dijawab oleh Baginda Rasulullah S.A.W.. iblis pun bertanya :-

Yaa Rasulullah, mengapakah Tuan Hamba tidak menjawab akan salam hamba kerana bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah SWT?

Maka sabda Baginda S.A.W. :-

Hai aduwullah musuh Tuhan! Kepada akukah engkau menunjukkan helahmu? Patutkah engkau dengan urusanmu itu hendak menipu aku sebagaimana engkau menipu Nabi Allah Adam A.S. sehingga terkeluar dari syurga dan Habil mati teraniaya dibunuh oleh Qabil dengan sebab hasutan engkau serta Nabi Allah Ayub A.S. engkau tipu asap racun semasa baginda sujud di dalam solatnya hingga begitu lama baginda menanggung sengsara oleh perbuatan engkau. Dan Nabi Allah Daud A.S. dengan perempuan pahlawan Urya serta Nabi Allah Sulaiman A.S. meninggalkan kerajaannya kerana engkau menyamar sebagai isterinya untuk melarikan cincin baginda; demikian juga beberapa Anbiya A.S.W.S serta para ulama yang telah menanggung kesengsaraan dan penganiayaan oleh perbuatan mu yang khianat. Hai iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia pada Tuhan Azza Wajalla. Hanya salam engkau sahaja aku tidak ingin menjawabnya kerana telah diharamkan oleh Tuhan dan engkau ini terlaknat serta telah ditentukan kepada engkau kedalam neraka yang amat keras bagi menyiksa dirimu. Maka aku kenal sangat bahawa engkaulah iblis yang menjadi raja segala syaitan telah datang dalam bentuk penyamaran. Apakah tujuan engkau datang mengadapku ini?

Maka sembah iblis :

Ya Nabi Allah, janganlah Tuan Hamba murka. Demi sesungguhnya, Tuan Hambalah Nabi yang terakhir lagi mulia dan kekasih Allah S.W.T. maka dapatlah Tuan Hamba mengenali hamba. Ya Nabi Allah, tujuan kedatangan hamba ke mari ialah dengan keizinan Tuhan Azza Wajalla. Allah SWT telah mengutuskan malaikatNya dengan Titah supaya hamba datang mengadap ke hadhirat Tuan Hamba. Ini supaya Tuan Hamba dapat bertanyakan apa juga persoalan mengenai keadaan umat Tuan Hamba. Hamba sedia menkhabarkan secara terus-terang mengenai tipu daya hamba di atas sekelian manusia bermula daripada zaman Nabi Allah Adam A.S. sehinggalah kepada zaman yang akan datang selepas zaman Tuan Hamba. Mereka yang hamba goda kepada beberapa banyak simpang dan jalan yang sesat supaya mereka binasa dengan tipu daya hamba yang amat halus.

Ya Nabi Allah, setiap pertanyaan Tuan Hamba akan hamba jawab satu persatu dengan sebenar-benarnya tanpa sembunyi.

Maka raja iblis pun bersumpah dengan nama Tuhan dan berkata :

Ya Nabi Allah, sekiranya hamba berdusta barang sepatah kata sekalipun, nescaya hancur-leburlah diri hamba terbakar menjadi abu

Mendengarkan pengakuan Raja iblis dan sumpahnya, maka Rasulullah S.A.W. berasa sukacita dan merasakan inilah peluang keemasan untuk baginda menyiasat segala perbuatan raja iblis dengan disaksikan oleh sekelian sahabat yang hadir di majlis berkenaan. Ianya juga akan menjadi senjata atau perisai kepada sekelian umat hingga kemudian hari.

DIALOG

RASULULLAH S.A.W : Wahai iblis! Siapakah yang sebesar-besar seteru engkau dan apakah pandanganmu terhadap aku ini?

raja iblis : Ya Nabi Allah, Tuan Hambalah musuh hamba yang paling besar daripada segala seteru hamba di muka bumi ini.

Maka Rasulullah S.A.W. merenung wajah raja iblis menyebabkan iblis menggeletar segenap tubuh badan serta anggotanya disebabkan terlalu gerun akan kebesaran Baginda.

raja iblis : Ya Nabi Allah, hamba mampu menyamar sebagai sesiapa juga termasuk haiwan bersekali dengan suara-suara yang tepat. Hamba ditegah Tuhan Azza Wajalla untuk menyamar sebagai Tuan Hamba kerana jika hamba melakukan yang demikian, nescaya terbakarlah hamba menjadi abu .

raja iblis : Hamba bersungguh-sungguh merentap iktikad anak Adam supaya mereka menjadi kafir ialah kerana Tuan Hamba bersungguh-sungguh menasihatkan mereka dengan memberikan pedoman kepada seluruh manusia supaya berpegang teguh kepada Islam. Begitulah juga kesungguhan hamba menarik mereka kepada kafir, murtad dan munafik. Hamba tarik sekelian umat Islam supaya meninggalkan jalan yang lurus dan beralih kepada jalan yang sesat. Hamba berharap mereka akan mauk ke neraka bersama-sama dengan hamba serta kekal di dalamnya buat selama-lamanya

RASULULLAH S.A.W: Hai iblis! Bagaimanakah perbuatanmu kepada makhluk Allah SWT?

raja iblis : Ya Nabi Allah, hamba goda perempuan-perempuan supaya merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya dan sesetengahnya hingga menghasilkan benih yang bersalah-salahan sifatnya. Hamba goda segala manusia supaya meninggalkan solat dan leka dengan makan-minum dan berbuat kemungkaran. Sesetengahnya hamba lalaikan dengan harta-bendanya daripada emas, perak, rumah dan ladang dan hasilnya dibelanjakan ke atas segala pekerjaan yang haram. Telah banyak kaum lelaki dan perempuan terpesong imannya menerusi tentera jin, iblis dan syaitan yang hamba perintahkan supaya menarik mereka ke jalan kemungkaran. Kalau terdapat sesuatu pesta yang melibatkan pergaulan bebas lelaki dan perempuan, maka hamba akan menggoda bersungguh-sungguh supaya mereka kehilangan maruah, meminum arak dan mempengaruhi rakannya dengan cara paksaan supaya meminum arak sehingga hilang akal dan hilang rasa malu mereka. Lalu hamba hulurkan tali percintaan yang asyik sehingga terbuka beberapa pintu maksiat yang besar supaya mereka berhasad-dengki sehingga melakukan perzinaan. Apabila lelaki dan perempuan berkasih-kasihan, maka terpaksalah mereka mencari wang menerusi tipu daya serta mencuri. Sekiranya mereka menyedari kesalahan masing-masing dan ingin bertaubat atau beramal-ibadat, hamba akan halang mereka sehingga mereka bertangguh dan bertempoh dalam berbuat kebajikan. Hamba juga akan menggoda dengan lebih kuat supaya melazimkan maksiat dan menyukai isteri orang. Maka telah ramai umat Tuan Hamba telah hamba sesatkan dengan jalan ini dengan bantuan jin, syaitan dan iblis di mana hamba menyuruh mereka menghasut seluruh anggota manusia hingga ke dalam tubuh badannya. Apabila mereka digoda pada hati, maka mereka akan sentiasa riak dan takabbur, ujub serta melengah-lengahkan amalnya dan berlaku sombong. Apabila mereka digoda pada lidah, maka sentiasalah mereka gemar berdusta, mencela dan mengumpat satu sama lain. Demikianlah hamba menghasut mereka semasa siang, malam, pagi dan petang.

RASULULLAH S.A.W: Hai iblis! Mengapakah engkau suka bersusah-payah dan berpenat-penatan untuk melakukan pekerjaan yang tidak memberikan sebarang faedah kepada dirimu bahkan menambahkan lagi laknat ke atas dirimu serta engkau akan ditimpakan sebesar-besar siksaan di dalam neraka yang paling bawah sekali?

RASULULLAH S.A.W: Hai laknatuLlah! Siapakah yang menghidupkan engkau? Siapakah yang menjadikan engkau? Siapakah yang melanjutkan usia engkau? Siapakah yang menerangkan mata engkau? Siapakah yang memberikan pendengaran telinga engkau? Siapakah yang memberikan kekuatan kepada anggota engkau?

raja iblis : Adalah sekeliannya itu adalah anugerah daripada Allah SWT yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur serta khianat telah menyebabkan hamba melakukan sebesar-besar kejahatan. Tuan Hamba juga sedia maklum bahawa hamba pernah menjadi ketua segala malaikat sehingga ribuan tahun dan bersujud kepada Allah SWT semenjak di dunia ini lagi dan hamba telah dinaikkan darjat menerusi satu langit ke satu langit dengan aman. Hamba pun mendiami tempat hamba dengan beribadat bersama-sama malaikat serta berkhidmat kepada Tuhan Azza Wajalla dalam tempoh yang begitu lama.

Tiba-tiba datang Firman Allah SWT kepada hamba sekeliannya mengenai dijadikanNya seorang khalifah di dalam dunia ini. Maka hamba membantah kerana tidak suka berkhalifah. Lantas Tuhan Azza Wajalla menjadikan seorang lelaki dan dititahkan hamba dan sekelian Malaikat memberikan penghormatan kepada Adam kecuali hamba seorang enggan bersujud dan hamba telah mengingkari hukumNya. Maka hamba dimurkai Tuhan Azza Wajalla serta dilaknatiNya hamba sehingga Hari Qiamat. Wajah hamba yang selama ini bercahaya dan cantik telah dihapuskan oleh wajah yang hodoh dan keji. Hamba sakit hati dan begitu berdendam kepada Adam. Kemudian Adam diangkat oleh Tuhan Azza Wajalla menjadi raja di dalam syurga serta dikurniakan seorang isteri untuk dijadikan permaisuri yang memerintah segala bidadari. Sentiasalah mereka dalam kesukaan dan kesenangan. Hasad-dengki hamba menjadi-jadi kepada kedua mereka dan merancang untuk mengkhianati mereka. Akhirnya hamba telah menipu Siti Hawa supaya meminta Adam memakan buah khuldi larangan Tuhan Azza Wajalla. Maka kerana perempuan itulah, Adam termakan buah larangan berkenaan sehingga mereka dihalau dari syurga dan diturunkan ke dunia secara terpisah kedua suami-isteri beberapa lama sehinggalah dipertemukan kembali oleh Tuhan Azza Wajalla dengan selamatnya sehingga mereka mendapat beberapa orang anak lelaki dan perempuan. Kemudian kami hasut pula anak lelakinya yang bernama Qabil supaya membunuh abangnya Habil sehingga mati. Itupun hamba masih tidak berpuas hati sehingga hamba dapat melakukan pelbagai tipu-daya ke atas sekelian anak-cucunya hinggalah ke Hari Qiamat. Tetapi Tuan Hamba telah menghalang pekerjaan hamba dengan menarik mereka supaya memeluk Islam. Ada pun sebelum Tuan Hamba diputerakan ke dalam dunia ini, hamba bersama-sama bala tentera hamba mampu naik ke langit dengan mudahnya mencuri rahsia dan tulisan-tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat dan mendapat pahala serta syurga. Demikian juga bagi mereka yang beribadat malam akan mendapat setinggi-tinggi pahala. Apabila hamba turun ke dunia, maka hamba khabarkan kepada mereka itu dengan jalan yang sesat melalui pelbagai tipu daya sehingga mereka berpegang kepada kitab-kitab bidaah dan karut. Tetapi apabila Tuan Hamba zahir ke alam dunia ini, maka hamba tidak dizinkan Allah SWT untuk naik ke langit dan hamba tiadalah lagi mendapat apa-apa rahsia umat Tuan Hamba. Ramai malaikat yang menjaga di pintu tiap-tiap lapisan langit dan jika hamba berdegil untuk naik ke langit, nescaya malaikat akan melontar anak panah api yang bernyala-nyala. Telah ramai bala tentera hamba daripada golongan jin, iblis dan syaitan terkena lontaran malaikat sehingga badan mereka terbakar menjadi abu. Hamba dan bala tentera hamba amat susah hati dalam usaha menjalankan hasutan ditambah pula Tuan Hamba dapat menzahirkan mukjizat-mukjizat yang amat hebat di hadapan sekelian raja-raja dan di khalayak ramai.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apakah tipu helah terawal engkau ke atas manusia?"

raja iblis : Pertama, hamba palingkan iman mereka sehingga terpesong iktikad mereka kepada kekafiran samada pada perkataan, perbuatan, kelakuan dan hati mereka. Namun jika mereka gagal hamba pesongkan, hamba akan berusaha menarik mereka kepada jalan yang mengurangkan pahala supaya lama-kelamaan, mereka akan terjerumus juga mengikut kemahuan hamba

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apabila umatku mendirikan solat, bagaimanakah keadaan engkau?"

raja iblis : "Itulah sebesar-besar kesusahan kepada hamba. Gementarlah seluruh badan hamba dan lemahlah tulang sendi hamba, maka pada waktu itu, hamba menyuruh puluhan syaitan iblis menggoda setiap orang yang hendak bersolat menerusi anggotanya supaya malas bersolat dan hatinya supaya was-was dalam solatnya serta terlupa bilangan rakaatnya. Mereka juga akan bimbangkan pekerjaan dunia dan hatinya hendak cepat-cepat menamatkan solatnya. Sesetengah iblis masuk ke dalam mata orang yang hendak bersolat supaya ia tidak kusyuk dalam solatnya sehingga mereka berpaling atau menjeling ke kanan dan kiri semasa solat. (Maka) tidaklah tetap hatinya serta hilanglah kusyuknya. Sesetengah iblis memasuki telinga orang yang bersolat supaya memasang telinga mendengar perbualan orang, bunyi-bunyian dan sebagainya - yang sia-sia belaka. Sesetengah iblis duduk pada belakangnya supaya orang yang bersolat itu tidak berupaya lama-lama semasa bersujud atau bertahiyyat. Di dalam hatinya sering bekehendakkan agar solatnya segera tamat dan ini tentunya akan mengurangkan pahala solat. Jika sekelian iblis berkenaan gagal menggoda seperti yang demikian, nescaya mereka akan hamba hukum seberat-beratnya.

RASULULLAH S.A.W: "Jika umatku membaca Al-Qur an kerana Allah, apakah yang engkau rasa?"

raja iblis : "Jika mereka membaca Al-Qur an kerana Allah, maka terbakarlah tubuh hamba serta putus-putus segala urat hamba, maka larilah hamba dari mereka.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika umatku mengerjakan haji kerana Allah, apakah yang engkau rasa?"

raja iblis : "Telah binasalah diri hamba dan gugurlah tulang hamba kerana mereka telah menyempurnakan rukunnya.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika umatku berpuasa kerana Allah, apakah yang engkau rasa?"

raja iblis : "Ya Nabi Allah, inilah suatu bencana yang besar bahayanya terhadap hamba kerana apabila masuk malam awal Ramadan, maka memancarlah nur Arasy dan Kursiy serta segala Malaikat menyambut dengan gembiranya. Bagi orang-orang yang berpuasa mendapat sebesar-besar anugerah Allah SWT yang Maha Pengampun segala dosa yang telah lalu serta digantikan pula dengan pahala yang amat besar serta tiada ditulis segala kesalahannya selama ia berpuasa. Tambahan pula yang menghancurkan hati hamba ialah segala isi langit, bulan dan bintang serta Malaikat sehinggalah burung-burung dan ikan-ikan laut dan air tawar juga tiap-tiap yang bernyawa di atas muka bumi mendoakan siang dan malam memohon ampun bagi orang-orang yang berpuasa. Satu lagi setinggi-tinggi kemuliaan orang yang berpuasa ialah Tuhan menjadikan 1000 kemerdekaan dari azab neraka pada setiap hari dalam Bulan Ramadan, segala pintu neraka ditutup, segala pintu syurga dibuka, angin/bayu syirah yang amat lembut berhembusan ke dalam syurga. Maka pada hari mulanya umat Tuan Hamba berpuasa, datanglah segala bala tentera Malaikat yang garang tanpa mengira lawannya menangkap hamba dengan perintah Tuhan serta ditangkapnya segala bala tentera hamba iaitu jin, syaitan dan ifrit serta dipasung kaki tangannya dengan besi panas - dan dirantainya hamba sekeliannya serta dibenamkan ke dalam bumi yang amat dalam dan ditambah pula dengan beberapa azab sengsara sehingga selesai ibadat puasa umat Tuan Hamba, baharulah hamba dilepaskan supaya hamba tidak boleh mengganggu mereka. Dan umat Tuan Hamba sendiri telah merasa kesenangan dalam menjalani ibadat puasa sebagaimana mereka bekerja untuk bersahur di waktu tengah malam seorang diri sekalipun tanpa sedikit perlu merasa takut seperti malam-malam yang lain

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Bagaimanakah halnya para sahabatku kepada engkau?

raja iblis : "Ya Nabi Allah, Adalah sekelian para sahabat Tuan Hamba adalah sebesar-besar seteru kepada hamba, kerana tiada upaya hamba melawan mereka dan tidak ada satu pun tipudaya hamba dapat memasuki mereka, kerana Tuan Hamba pernah berkata Sekelian para Sahabatku adalah umpama bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka nescaya kamu akan mendapat petunjuk Ya Nabi Allah, sekelian para sahabat Tuan Hamba sangat taat mengerjakan perintah Tuan Hamba lagi setia serta bersungguh-sungguh menyiar dan menghebahkan syariat Tuan Hamba kepada sekelian manusia menerusi Al-Qur an dan Al-Hadis. Ada pun Sayyidina Abu Bakar As Siddiq bin Abi Qahafah R.A. itu semasa sebelum beliau bersama Tuan Hamba pun, hamba gagal menghampirinya apalagi sekarang beliau telah mendampingi Tuan Hamba. Beliau amat kuat bersaksi di atas kebenaran Tuan Hamba sehingga beliau telah menjadi wazirul a zam dan Tuan Hamba telah berkata bahawa kiranya ditimbang kebajikan Abu Bakar dengan amal kebajikan sekelian isi dunia ini, nescaya lebih beratlah kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula, beliau telah menjadi bapa mertua Tuan Hamba dengan mengahwinkan puterinya Sayyidatina Aishah R.A yang sangat hafiz Hadis-Hadis Tuan Hamba. Ada pun sahabat Tuan Hamba, Sayyidina Umar Al-Khattab R.A., hamba tidak berani memandang wajahnya kerana beliau sangat tegas dalam menjalankan hukum syariat Tuan Hamba. Jika hamba terpandang wajahnya, maka gementarlah segala tulang sendi hamba kerana tersangat takut kepadanya kerana imannya yang sangat kuat apalagi Tuan Hamba pernah bersabda, Jikalaulah ada lagi Nabi selepas aku, nescaya Umar boleh menggantikannya kerana harapan besar Tuan Hamba ke atasnya. Beliau juga mampu membezakan iman dan kafir sehingga beliau mendapat gelaran Umar Al-Faruk . Ada pun sahabat Tuan Hamba, Sayyidina Osman Al-Affan itu lebih-lebih lagi tidak dapat hamba hampiri kerana lidahnya sentiasa bergerak membaca Al-Qur an, siang, malam, pagi dan petang. Dialah penghulu segala orang yang sabar dan penghulu segala syuhada dan menjadi menantu Tuan Hamba sebanyak 2 kali. Kerana ketaatannya, beliau dikunjungi oleh para Malaikat dengan penuh hormat kerana sangat malunya Malaikat kepada beliau. Tuan Hamba telah berkata, Barangsiapa menulis BismillaahirRahmaanirRahiim pada kitab-kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala baginya seperti pahala syahid Sayyidina Osman. Ada pun sahabat Tuan Hamba, Sayyidina Ali bin Abi Talib R.A., hamba sangat takut kepadanya kerana kehebatan kelakuannya serta kedahsyatan melihat keperkasaannya di medan peperangan merempuh segala musuhnya. Maka apabila iblis, syaitan dan jin memandang wajah Sayyidina Ali, nescaya terbakar kedua biji mata mereka kerana beliau sangat kuat mengerjakan perintah Tuhan serta beliau adalah julung-julungnya kanak-kanak yang memeluk Islam serta enggan menundukkan kepala kepada sebarang berhala, sebab itulah beliau digelar Ali KarimahullahuWajhah dan Harimau Allah . Tuan Hamba pernah bersabda, Akulah negeri segala ilmu dan Ali adalah pintunya . Tambahan pula, beliau telah menjadi menantu tuan hamba, maka terlebihlah ngeri hamba kepadanya.

RASULULLAH S.A.W: "Bagaimanakah tipudaya engkau terhadap umatku?

raja iblis : "Adalah umat Tuan Hamba ada tiga golongan (1) Seperti air hujan turun dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan lagi banyak manfaatnya dan pertolongan kepada lainnya iaitu guru-guru yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala tegahanNya dan kata (Malaikat) Jibril A.S., Adapun ulama itu pelita dunia dan pelita akhirat (2) Umat Tuan Hamba itu seperti tanah iaitu orang (yang) sabar, bersyukur dan redha akan kurnia Tuhan kepadanya serta beramal soleh dan bertawakkal kepada Allah dan banyak berbuat kebajikan, dan (3) Umat Tuan Hamba itu keadannya seperti Fir aun yang terlampau tamak dengan harta dunia (dan) dihilangkan amal (perbuatan) akhirat. Maka (dengan) sukacitalah hamba kepada mereka (umat ke 3) lalu hamba masuk ke dalam tubuh mereka, hamba putarkan hati mereka menuju ke lautan derhaka. Apabila telah kekal atas jalan kejahatan, hamba tarik ke mana (sahaja) sesuka hati hamba, jadi sentiasalah mereka bimbangkan dunia dan tidak suka menuntut ilmu, dijadikan dirinya tiada kelapangan untuk beramal, tidak mengeluarkan zakat hartanya dan sesetengah (golongan) yang miskin (yang) hendak beribadat, hamba goda mereka (supaya) meminta kekayaan terlebih dahulu, maka apabila disampaikan Tuhan akan hajatnya untuk mendapatkan kesenangan, maka (hamba) lupakan mereka dari beramal, tidak mahu mengeluarkan zakat harta mereka ibarat Qarun dengan mahligainya dan diri mereka serta harta benda mreka habis terbenam ke dalam bumi kerana mereka tidak mahu membelanjakan (harta mereka) pada jalan-jalan kebajikan dan jika terkena kesakitan, mereka tidak sabar, mereka sentiasa bimbangkan harta mereka dan sesetengah dari mereka yang kaya asyik dengan perebutan dunia, bercakap besar kepada sesama Islam dan benci dan menghina golongan miskin. Mereka gemar mengeluarkan harta mereka kepada jalan-jalan maksiat dan menaburkan harta mereka kepada perempuan-perempuan jahat dan tempat-tempat judi dan (majlis) tarian.

RASULULLAH S.A.W: "Siapa pula yang sama (tarafnya) seperti engkau?

raja iblis : "Orang-orang yang meringankan syari at Tuan Hamba dan membenci orang-orang yang mempelajari Islam.

RASULULLAH S.A.W: "Siapakah pula yang memberikan cahaya pada muka engkau?

raja iblis : "Orang-orang yang berdosa dan bersumpah bohong dan (menjadi) saksi pembohong serta memungkiri janji.

RASULULLAH S.A.W: "Apa pula rahsia engkau terhadap umatku?

raja iblis : "Jika seorang muslim ingin membuang air besar (ke tandas), jika tidak membaca doa kepada Allah SWT untuk mohon perlindungan daripada syaitan, nescaya hamba lumurkan najis itu ke tubuhnya tanpa disedari.

(Inilah doanya sebelum sampai ke tandas - Bismillahi AllaHomma Innii a uu dzubikaminal khubusi wal khobaa is jika masuk ke tandas, dahulukanlah kaki kiri dan jika keluar dari tandas dahulukan pula kaki kanan dan apabila jauh empat-lima langkah daripada tandas, dibaca di dalam hati GhufraanakalhamdulillaaHilladzii azHaba annil azaa wa aafinii dan apabila selesai bersuci dibacakan doa AllaaHumma ToHHir Qalbii minnifaaqi wahaSSin farjii minal fawaa hi shi )

Maka jika dibacakan doa-doa tersebut, larilah hamba daripadanya

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika umatku berjimak dengan isterinya, bagaimanakah keadaan engkau?

raja iblis : "Jika seseorang hendak berjimak dengan isterinya, (dan) jika dia membaca : A uu dzubillaaHiminassyaitaanirrajiim, AllaHumma jannibnaa minassyaitaani wajannibissyaitaan maa razaqtanaa maka larilah hamba daripadanya. Maka jika dia tidak membacakan doa tersebut, (maka) hambalah yang terlebih dahulu berjimak dengan isterinya dan jika menjadi anak (hasil pergaulannya), maka anak itu menggemari pekerjaan maksiat serta malas berbuat (baik) atas jalan kebajikan dengan sebab kelalaian ibubapanya. Demikian juga jika mereka makan atau minum dengan tidak membaca BismillaahirRahmaaniRahiim maka, hambalah yang terlebih dahulu makan dan minum sebelum mereka, maka walaupun mereka makan, tetapi mereka tidak kenyang.

RASULULLAH S.A.W: "Dengan jalan manakah yang dapat menolak tipudayamu?

raja iblis : "Jika seseorang berbuat dosa, maka ia segera sedar dan bertaubat kepada Allah SWT dan menangis serta menyesal di atas perbuatannya serta apabila dia marah, dengan segera dia berwudhuk, nescaya padamlah kemarahannya. Barangsiapa yang membaca doa ini setiap kali solat Jumaat sebanyak 5 kali, maka dosanya akan diampunkan Tuhan kerana dia telah bertaubat. Inilah doanya : Ilaahii lasta lil firdausi ahlan, walaa aq waa a laa naaril jahiim, fahablii taubatan waghfir dzunuubii, fainnaka ghaafirudzzanbil aziim

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah yang benar-benar menjadi kegemaranmu?

raja iblis : "Apabila lelaki dan perempuan tidak mencukur atau mencabut atau menggunting bulu di ari-arinya selama 40 hari, maka hamba akan tinggal mengecilkan diri seperti pepijat bersarang di situ, begitu juga, (menjadi) tempat hamba bergantung dan berbuai pada bulu ketiak orang yang tidak mencukurnya atau mencabutnya

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah saudaramu?

raja iblis : "Orang yang tidur meniarap atau tidur (nyenyak) di waktu subuh, maka dia masih tidur dan tidak segera solat subuh, maka hamba akan mengulitnya sehingga dia lena sehingga terbit matahari dan begitu juga pada waktu zohor, asar dan maghrib, hamba (akan) beratkan hatinya (sehingga) menjadi malas mengerjakan solat.

(Apabila hendak tidur, bacalah BismillaahirRahmaanirRahiim sebanyak 21 X)

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Dengan jalan manakah yang boleh membinasakanmu?

raja iblis : "Orang yang banyak menyebut nama Allah dan banyak memberikan sedekah dengan tidak diketahui orang, memperbanyakkan taubat, memperbanyakkan tadarrus Al-Qur an serta solat di waktu malam.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apakah pula yang memecahkan penglihatan engkau?

raja iblis : "Orang yang banyak beriktikaf di masjid kerana Allah

(lafaz niat iktikaf Nawaitul I tikaaf fii Haa dzal masjidi sunnatan lilLaahiTa aala )

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apakah lagi yang memecahkan penglihatan engkau?

raja iblis : "Orang yang taat kepada (kedua) ibubapanya serta membantu (menjaga) makan dan minum serta pakaian mereka kerana Tuan Hamba telah bersabda Bermula syurga itu adalah di bawah (tapak) kaki ibubapa

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apa pula yang merantai engkau?

raja iblis : "Penjual (peniaga) yang betul timbangan (dan) sukatannya, ukuran dan tukarannya.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apabila umatku memberi salam antara satu dengan yang lain, bagaimanakah keadaanmu?

raja iblis : "Apabila dua orang (muslim) bertemu di tengah jalan, lantas memberikan salam (Assalaamu alaikum waroh matulLaaHiwabaa rakaatuh) dan dijawab oleh saudaranya, maka terasa seperti pecah dada hamba, maka hamba pun meratap kerana kedua-duanya telah diampunkan- dia dan saudaranya - apabila berpisah keduanya

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah pula sahabat karibmu?

raja iblis : "Orang yang minum arak atau tuak (samsu) atau (ketagih) candu atau ganja (termasuk penyalahgunaan dadah) kerana kemerbahayaannya telah nyata menyebabkan perpecahan, perkelahian dan perceraian

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah pula yang bersekutu dan sekedudukan dengan engkau?

raja iblis : "Apabila bertemu lelaki dengan perempuan-perempuan muda, maka hamba duduk pada leher perempuan-perempuan muda itu, hamba hiaskan wajahnya (perempuan) dengan jelingan dan senyuman yang menarik hati serta apabila terpandang belakang (perempuan), maka terpandanglah lehernya (perempuan) yang halus dengan pinggang dan punggungnya melenggang yang membangkitkan nafsunya (lelaki) serta manakala terpandang hadapannya (perempuan), hamba hiaskan dadanya (perempuan) supaya bergetaran serta hamba panah tepat pada jantung hati keduanya (lelaki dan perempuan) atau salah satu daripadanya sehingga tergerak syahwatnya. Orang yang tiada memelihara hatinya, nescaya tidak terpelihara farajnya dan apabila tidak memelihara farajnya, maka tidak terpeliharalah imannya.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Di manakah kediamanmu?

raja iblis : "(hamba tinggal) Pada rumah berhala dan pada mana-mana batu, kayu, tembaga dan sebagainya (bahan pujaan) Apabila mereka menyembah (berhala, batu, kayu, tembaga dan sebagainya), maka hamba cenderungkan hati mereka supaya bertambah-tambah keyakinannya terhadap pekerjaan mereka (menyembah berhala) yang syirik itu. Betapa ramainya umat Tuan Hamba telah hamba pesongkan sehingga memasuki rumah berhala Majusi dan Hindu yang menunjukkan betapa nipisnya iman mereka.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Di manakah tempat perhimpunanmu?

raja iblis : "Pada rumah wayang dan tempat majlis tarian dan seumpamanya seperti tempat percampuran lelaki dan perempuan (secara bebas)

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Aku lihat engkau mengintai-ngintai di dalam masjid, apakah yang hendak engkau lakukan?

raja iblis : "Hamba hendak mengganggu orang yang sedang bersolat di situ.

RASULULLAH S.A.W: "Kenapa engkau tidak takutkan orang yang sedang bersolat dan bermunajat dengan Tuhannya? Sebaliknya engkau takut pula dengan orang yang sedang tidur di sebelahnya padahal orang (yang sedang tidur) itu (mungkin) dalam keadaan lalai

raja iblis : "Adapun orang yang sedang bersolat itu amat jahil sekali, (maka) mudahlah untuk hamba merosakkan (melalaikan) solatnya, tetapi orang yang sedang tidur itu (sebenarnya) alim. Maka apabila hamba menggoda dan cuba merosakkan solatnya, hamba takut kalau-kalau orang alim itu bangun dari tidurnya lalu menegur serta memperbetulkan solat si jahil itu

(Sabda Rasulullah S.A.W. Na umul aliimi khairun min ibaadatil jahiil yang bermaksud Tidur orang yang alim lebih baik daripada ibadat orang yang jahil seperti 1000 orang beribadat dengan tidak berilmu agama, sangat senanglah syaitan mengganggunya, teapi seorang pelajar ilmu feqah itu, sangat susah bagi syaitan hendak menggodanya)

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apakah kata-kata pujian bagimu?

raja iblis : "Suara orang yang bernyanyi dan berpantun-seloka serta suara bunyi-bunyian kecuali orang yang bernyanyi, berpantu, bernazam memuji Tuhan, bernasyid serta berselawat di atas Nabi

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah yang sekaum denganmu?

raja iblis : "Orang yang menipu harta orang dan memakan harta anak yatim serta memakan riba

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Sebab apakah engkau gelapkan hati manusia?

raja iblis : "Mereka yang makan dan minum dengan (punca) mata pencarian yang haram kerana mereka buta dalam mencari harta yang halal serta mereka banyak tidur sehingga matahari tinggi dan meninggalkan solat subuh serta memenuhi perutnya dengan kenyang sekali

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah yang menggembirakan hati engkau?

raja iblis : "Orang kaya yang bakhil dan orang yang tidak mengeluarkan zakat untuk hamba Allah yang dhaif, malah zakatnya dihantar kepada orang lain padahal kaumnya miskin, kerana orang yang bakhil itu seteru Allah SWT serta orang yang tidak mengeluarkan zakat itu akan masuk ke dalam neraka yang paling bawah bersama-sama dengan hamba.

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah yang menyuburkan badan engkau?

raja iblis : "Orang yang berhasad dengki dan orang yang tidak mempelajari hukum Islam serta semua perempuan yang jahat dan perempuan yang merosakkan dirinya serta perempuan yang menjual maruahnya

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika seorang ulama meninggal dunia, bagaimanakah keadaanmu?

raja iblis : "Telah subur dan bertunaslah hasutan hamba dan pekerjaan hamba.

(Sabda Rasullullah S.A.W. - yang bermaksud Barangsiapa yang berdukacita di atas kematian seorang ulama , maka dituliskan Allah SWT pahala baginya seribu ulama dan seribu syuhada , Sabda Rasulullah SAW lagi yang bermaksud Akan datang atas umatku yang melarikan diri dari ulama atau mereka yang membenci golongan yang mengajar agama, maka diberikan Allah SWT 3 jenis bala ke atas mereka (yang membenci atau melarikan diri dari ulama dan seumpamanya) (1) Dihilangkan keberkatan dalam pencariannya (rezki), (2) Didatangkan Allah SWT ke atas mereka seorang ketua yang zalim atau raja yang zalim, dan (3) dikeluarkan (dimatikan) mereka daripada dunia dengan tidak beriman Na uu dzubillaaHimin dzaalik kita berlindung dengan nama Allah SWT )

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika umatku bersolat jemaah, bagaimanakah keadaanmu?

raja iblis : "Sesungguhnya segala simpulan (tali pengikat) tipudaya hamba telah mereka leraikan

(Maka sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud Barangsiapa solat 5 waktu, maka dia akan mendapat 5 perkara (1) Tidak akan terkena pada dirinya kefakiran (kemiskinan), (2) Diangkatkan darinya siksa kubur oleh Allah S.W.T., (3) Dianugerahi orang itu dengan kitab tulisannya (perbuatan di dunia) pada sebelah kanan (pihak yang selamat), (4) Melalui titian (Siraatal Mustaqiim) di atas neraka sepantas kilat, (5) Dimasukkannya Allah SWT ke dalam syurga tanpa sebarang hisab dan tanpa sebarang siksaan. Sabda Rasulullah S.A.W. lagi yang bermaksud Solat lelaki berjemaah lebih baik daripada solat 40 tahun di rumahnya seorang diri dan solat berjemaah itu mendapat 27 darjat - serta solat berjemaah di rumahnya bersama anak (anak) dan isterinya akan mendapat pahala haji dan umrah )

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika umatku berselawat ke atas ku, bagaimanakah keadaanmu?

raja iblis : "Mereka telah membelah muka hamba disebabkan ingatan kuat terhadap Tuan Hamba

(Maka sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud Barangsiapa berselawat ke atasku, maka para Mailaikat akan memohon diampunkan (segala dosanya) dia dan dia adalah sebahagian daripada isi syurga

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika umatku bersolat Hari Raya di masjid, bagaimanakah keadaanmu? Kerana Tuhanku yang Maha Besar telah berfirman - Hai sekelian Malaikat! Saksikanlah olehmu bahawa sesungguhnya telah Aku ampunkan sekelian dosa umat Muhammad, lelaki dan wanita/perempuan, Maka apabila telah selesai dari solat dan khutbah dibacakan, maka Firman Allah SWT Hai umat Muhammad! Pulanglah kamu ke rumah masing-masing, sesungguhnya Aku telah mengampunkan dosa kamu yang terdahulu dan yang kemudian dan Aku telah gantikan dosamu itu dengan kebajikan!

raja iblis : "Ya Rasulullah! Apabila umat Tuan Hamba pergi (untuk) bersolat Hari Raya, maka hamba sangat berdukacita dan kesal. Maka hamba pun menjerit sehingga datang sekelian bala tentera hamba dan (mereka) bertanya Hai raja kami! Siapakah yang engkau marah? Adakah ianya (puncanya) dari langit atau dari bumi? Perintahkanlah kami sekelian pergi membinasakan barang di langit dan di bumi. Maka hamba menjawab Hai bala tenteraku! Apa yang menyebabkan aku berdukacita ialah kerana Allah SWT telah mengampuni umat Muhammad pada Hari Raya ini. Wahai sekelian bala tenteraku! Tidakkah kamu mengetahui bahawa Allah SWT telah memberkati puasa umat Muhammad? Dan Tuhan amat mengasihi dan mengasihani mereka dengan penuh rahmat serta diperkenankan segala doa mereka dan diampunkan segala kesalahan mereka? Wahai tenteraku! Hendaklah kamu goda mereka itu supaya malas beramal ibadat dan resah dengan berjalan ke sana dan kemari serta asyik berjudi serta bersukaria memuaskan nafsu dengan mengerjakan maksiat supaya datang kemurkaan Tuhan ke atas mereka itu dan ditimpakan bala ke atas mereka kerana dengan demikian, akan membawa kesenangan di dalam hatiku. Maka berangkatlah sekelian bala tentera iblis syaitan untuk mengganggu umat Muhammad

RASULULLAH S.A.W: "Jika umatku membaca doa akhir tahun (Hijrah), bagaimanakah keadaanmu?

raja iblis : "Telah bersusah payah hamba menggoda mereka sepanjang tahun, tiba-tiba mereka membaca doa (yang hanya) mengambil masa yang sedikit, maka lemahlah hamba lalu hamba menyapu dengan tanah (dan berkata), aduhai, celaka betapa malang dan celaka diriku dengan kerugian, maka hamba pun berpaling (dan) pergi

(Doa Hujung Tahun AllaaHomma maa amiltu min amalin fii HaaziHissanati mimmaa nahaitanii anHu, walam tar Dhahu walam tan sahu, wahamilta alaiyya ba da qud rotika alaa, uquubatii, wada autanii ilattaubati ba da jur aatii alaa ma Siatika, fainnii astaghfiruka faghfirlii waHablii min amalin tarDhahu, wa wa datanii alaihitsawwaab )

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Jika umatku membaca doa awal tahun, bagaimanakah keadaanmu?

raja iblis : "Ya NabiyUllah! Putuslah harapan hamba, kerana barangsiapa membaca doa awal tahun, (maka) Tuhan memerintahkan dua Malaikat supaya membakar buku kesalahan hambanya dan dituliskan kebajikan di dalam (buku kebajikan) disebabkan orang yang membaca doa ini .

(Doa Awal Tahun AllaaHomma antal abdiyyulQadiim,waHaaziHi sanatu jadiidatun, as aluka fiihal iSmata minassyaiTooni wa au liyaa ihi. Wal au na alaa Haa dzihiinnafsil ammaarati bissuu wal ish ti ghaala bisaa yuQorribunii ilaika yaa Kariim )

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Siapakah yang menyokong engkau?

raja iblis : "Orang yang tidak bertaubat atas dosanya dan suka ketawa ketika berbuat dosa berkenaan. Ya NabiyyUllaah! Telah hamba binasakan ramai manusia dengan (menggoda mereka) mengerjakan dosa daripada berbagai-bagai (jenis) maksiat, maka hamba gembria. Tiba-tiba, mereka mengucapkan kalimah-kalimah Laa ilaa Ha illAllaah dan istighfar, maka binasalah hamba, kerana pada masa hamba dibuang ke dunia (dulu), hamba mengembara sambil bersiul-siul dan orang yang bersiul itu adalah penghibur iblis syaitan, tetapi orang yang azan itu adalah penghalau iblis syaitan, kerana para Malaikat akan hadir bersolat bersama-sama dengan mereka .

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Sekarang apalah kesudahan ikhtiar engkau di atas umatku, kerana aku telah dibangkitkan oleh Tuhan ke dunia ini bagi menyelamatkan sekelian bani Adam daripada kufur kepada iman, daripada gelap gelita kepada terang benderang?!

Maka iblis pun mengangkat kepalanya ke hadhirat Tuhan dan berkata Yaa Rabbi! Demi kemuliaan Engkau, sentiasalah hamba akan berusaha dengan bersungguh-sungguh pada menarik sekelian anak Adam kepada berbagai-bagai jalan maksiat selama ada nyawa di tubuh mereka, hamba jadikan pemuda dan wanita bercampur dan berkenalan, supaya hamba dapat mencelah di dalamnya.

(Maka) Datanglah Firman Allah SWT :

Hai mala un, Demi Kebesaran dan KetinggianKu, bahawa Aku sentiasa bersedia untuk mengampuni dosa umat Muhammad selagi mereka itu memohon ampun kepadaKu

RASULULLAH S.A.W: "Hai iblis! Apa lagi yang engkau musykilkan?

raja iblis : "Ya Rasulullah! Bahawasanya hamba sangat ajaib (hairan) melihat dua macam hal sekelian hamba Allah SWT iaitu (1) Mereka itu mengaku kasihkan Tuhan, walhal mereka itu taatkan hamba dan berbuat maksiat, (2) Mereka itu sangat marah kepada hamba, tetapi mereka menurut hasutan hamba.

(Maka) Datanglah Firman Allah SWT:

Hai mala un! Demi Kemuliaan dan KebesaranKu, Aku anugerahi umat Muhammad (dengan) 2 kebahagiaan : (1) Kasih mereka kepadaKu dijadikan kifarah (penebus dosa) bagi maksiat mereka kerana tipudayamu, dan (2) Kemarahan mereka kepadamu Aku jadikan kifarah (penebus dosa) perbuatan maksiat mereka kepadaKu

Maka iblis tercengang-cengang mendengar umat Muhammad yang sangat dikasihi Tuhan GhafuururRahiim yang Maha Mengampuni lagi Maha Mengasihani hambanya dengan limpah rahmatNya.

Setelah selesai baginda Rasulullah S.A.W. berdialog dengan raja Iblis, maka baginda menghalau iblis dengan sabdanya : Wahai laknatullah! Nyahlah engkau dari hadapanku ini maka iblis pun keluar dengan perasaan yang amat dukacita.

Maka hairanlah para sahabat yang hadir dalam majlis berkenaan mendengar tipudaya iblis yang menyelubungi seluruh umat manusia.

Sabda Nabi S.A.W.: Hai para sahabatku! Ketahuilah olehmu bahawa iblis telah membuat kesalahan atas beberapa sebab : (1) ia engkar dan membantah perintah Tuhan, (2) ia takbur dan besar diri (3) ia berhasad dengki dengan Nabi Adam a.s. (4) Ia menghasut dan mengkhianati (manusia) (dari) seorang kepada seorang (yang lain) seperti yang telah ia ajarkan kepada Qabil dengan tipudayanya sehingga berani Qabil melakukan pembunuhan ke atas saudaranya Habil yang disayangi oleh Nabi Allah Adam a.s.

Sabda Nabi S.A.W.: Bahawa pada suatu hari, Iblis mengadap Nabi Musa bin Imran a.s. dan berkata : Yaa NabiyuLLaah! Apabila Tuan Hamba bermunajat kepada Allah S.W.T di Bukit Tursina, hamba hendak bertaubat kepada Allah SWT, adakah (taubat) hamba diterimanya?

Maka sukacitalah Nabi Musa a.s. mendengarkan iblis yang hendak bertaubat itu lalu baginda menyanggupi permintaan iblis. Setelah tiba di Bukit Tursina, maka berdoalah baginda kepada Allah SWT memohon petunjuk. Maka datanglah Firman Allah S.W.T. : Wahai Musa, kesalahan iblis boleh Ku ampunkan dengan syarat hendaklah ia (iblis) bersujud pada kubur Nabi Adam Maka Nabi Musa a.s. pun menyampaikan firman Allah S.W.T. kepada iblis. iblis mengeluh dan berkata Wahai Nabi Musa! Semasa Adam masih hidup pun hamba tidak sudi bersujud kepadanya, inikan pula, Adam telah mati Maka iblis pun beredar.

Sabda Nabi : Bermula (tegaknya) tiang dunia ini dengan 4 perkara : (1) Dengan ilmu para ulama, (2) Dengan adilnya sekelian raja-raja, (2) Dengan kemurahan (hati) orang-orang kaya, (4) Dengan doa sekelian fakir miskin.

Maka sekiranya tidak ada ulama, nescaya binasalah sekelian orang yang jahil dan sekiranya raja-raja tidak adil, nescaya (segolongan) manusia (ibarat) memakan (segolongan) manusia yang lain sebagaimana harimau menghambat dan memakan kambing. Sekiranya (pula) tidak ada kemurahan (hati) orang-orang kaya, nescaya binasalah sekelian fakir miskin dan sekiranya tidak ada doa fakir miskin, nescaya runtuhlah langit dan bumi.

KISAH NABI IDRIS A.S. MENIKAM MATA iblis

Pada suatu hari, sedang Nabi Idris a.s. duduk menjahit bajunya, tiba-tiba berdiri di hadapan pintu rumahnya seorang lelaki memegang sebiji telur di tangannya. Katanya Ya Nabi Allah Idris! Bolehkah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini?

Maka Nabi Idris a.s. memandang lelaki berkenaan dan baginda terus mengecam lelaki berkenaan sebagai iblis laknatullah.

Nabi Idris A.S. bersabda: Marilah ke sini dekat denganku, tanyalah apa yang engkau kehendaki. Maka raja iblis itu pun mendekati baginda sambil mengulangi pertanyaannya : Ya Nabi Allah Idris! Bolehkah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini?

Sahut Nabi Allah Idris A.S. : Jangankan memasukkan dunia ini ke dalam telur sebesar ini, bahkan ke dalam jarumku yang sekecil inipun, Tuhanku Maha Berkuasa memasukkan dunia ke dalamnya Lalu dengan pantas Nabi Allah Idris A.S. pun menikam mata raja iblis dengan jarum. iblis pun terperanjat dan kesakitan lalu melarikan diri setelah menerima tandatangan Nabi Allah Idris A.S. yang telah menyebabkan ia buta sebelah matanya sehinggalah zaman kebangkitan Junjungan kita dan kekasih Allah SWT iaitu Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W.